Mili.id – Peringatan Hari Hepatitis Sedunia menjadi pengingat penting bagi masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap penyakit hepatitis, terutama Hepatitis B yang dikenal sebagai silent killer. Anggota Komisi D DPRD Kota Surabaya, dr. Hj. Zuhrotul Mar'ah, mengingatkan bahwa penyakit ini kerap berkembang tanpa gejala yang jelas sehingga sering terlambat terdeteksi.
Menurut legislator yang juga berprofesi sebagai dokter tersebut, masyarakat tidak boleh menyamakan seluruh jenis hepatitis. Hepatitis A umumnya dapat sembuh dengan sendirinya, sedangkan Hepatitis B memiliki risiko berkembang menjadi sirosis hingga kanker hati apabila tidak ditangani sejak dini.
Baca juga: PKS Semprot OPD Surabaya, Respons Lambat Dinilai Hambat Pelayanan Publik
"Gejala awalnya sering kali tidak nampak atau dianggap biasa oleh masyarakat. Urine berwarna pekat seperti teh, badan lemas, mual yang dianggap penderita sebagai sakit maag biasa, hingga rasa begah di perut kanan atas itu sudah harus diwaspadai," ujar dr. Zuhrotul Mar'ah, Selasa (28/7/2026).
Ia menjelaskan, penularan Hepatitis B maupun Hepatitis C dapat terjadi melalui kontak dengan cairan tubuh, seperti hubungan seksual berisiko, penggunaan jarum suntik yang tidak steril, alat tato yang tidak higienis, hingga penularan dari ibu kepada bayi saat proses persalinan.
Karena itu, dr. Zuhrotul menilai skrining atau pemeriksaan kesehatan harus diperluas, terutama bagi kelompok yang memiliki risiko tinggi. Ia menegaskan setiap ibu hamil wajib menjalani pemeriksaan Hepatitis B sebagai bagian dari layanan kesehatan rutin untuk mencegah penularan kepada bayi.
Selain ibu hamil, pemeriksaan juga perlu menyasar kelompok rentan seperti pengguna narkoba suntik, pekerja seks, maupun masyarakat yang memiliki riwayat perilaku berisiko.
Baca juga: DPRD Desak Pemkot Mediasi Polemik Kos Empat Lantai Mulyorejo
"Setiap ibu hamil wajib dites hepatitis. Begitu juga bagi kelompok-kelompok rentan lainnya. Jangan sampai karena tidak menyadari kondisi kesehatannya, penularan terus meluas ke mana-mana," tegasnya.
Tak hanya mendorong skrining, dr. Zuhrotul juga mengajak masyarakat menerapkan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS), termasuk tidak berbagi penggunaan barang pribadi seperti silet cukur, gunting kuku, maupun sikat gigi yang berpotensi menjadi media penularan virus.
Di sisi lain, ia meminta Pemerintah Kota Surabaya melalui Dinas Kesehatan melakukan evaluasi terhadap capaian vaksinasi Hepatitis B. Menurutnya, vaksinasi merupakan langkah pencegahan paling efektif dibandingkan pengobatan ketika seseorang telah terinfeksi.
Baca juga: DPRD Desak Pemkot Dengarkan Penolakan Warga Terhadap Spiritshaus Barata Jaya
Ia juga menaruh harapan besar kepada Kader Surabaya Sehat (KSH) agar semakin aktif memberikan edukasi dari rumah ke rumah sehingga kesadaran masyarakat terhadap bahaya hepatitis terus meningkat.
"Cakupan vaksinasi hepatitis harus terus dipantau prosentasenya dari target yang ditetapkan. Kader Surabaya Sehat (KSH) harus menjadi ujung tombak dalam memberikan sosialisasi pencegahan langsung ke rumah-rumah warga," pungkasnya.
Peringatan Hari Hepatitis Sedunia diharapkan menjadi momentum memperkuat deteksi dini, memperluas cakupan vaksinasi, serta meningkatkan edukasi masyarakat agar angka penularan hepatitis di Surabaya dapat ditekan dan komplikasi penyakit yang mengancam jiwa dapat dicegah sejak awal.
Editor : Redaksi
