Budi Leksono, Anggota Komisi A DPRD Surabaya (Foto: Bejo/mili.id)
Surabaya - Kontestasi pemilihan legislatif (Pileg) yang kompetitif dan kompleks dianggap membuat praktik politik uang kian rawan. Salah satu titik yang paling rawan ialah ketika hari tenang dan pencoblosan atau sering disebut 'Serangan Fajar'.
Sesuai analoginya, serangan fajar itu yakni ada calon legislatif (caleg) yang berusaha membeli suara dan ada rakyat, yang sengaja ataupun tidak sengaja, menjual suaranya.
Dalam ekonomi pasar bebas, apapun bisa menjadi komoditas selama memiliki nilai jual.
Tak terkecuali pada kontestasi Pileg DPRD Kota Surabaya 2024 di Daerah Pemilihan (Dapil) 1 (Kecamatan Bubutan, Genteng, Gubeng, Krembangan, Simokerto, dan Tegalsari ). Dapil yang kompetitif ini dinilai nyata sarat akan praktik politik uang.
Namun, semua itu kini terbantahkan oleh Budi Leksono, Anggota Komisi A DPRD Surabaya Legislator dari Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) ini kembali melenggang mulus ke Yos Sudarso tanpa politik uang.
Hal itu terlihat dari perolehan suara Caleg DPRD Surabaya dari PDIP nomor urut 1 ini yang memperoleh 13.271 suara.
Budi Leksono mengatakan, pada kontestasi Pileg tahun 2024 ini, semakin banyak partai dalam pemilu membuat kompetisi pileg makin sengit.
Belum lagi calon legislatif harus berkompetisi di internal dan eksternal, sehingga kesempatan ini menjadi peluang bagi mereka menempuh perilaku yang penting menang.
Baca juga: Drainase Tersumbat Kabel Misterius, Rumah Warga Terancam Banjir Saat Musim Hujan
"Apapun caranya, karena kompetisinya sangat sengit, mau gak mau cara apapun mereka tempuh, yang penting menang," kata Budi Leksono diruang kerjanya, Kamis,(21/03/2024).
Bulek nama panggilan Budi Leksono membenarkan kecurigaan publik atau masyarakat selama ini, bahwa pemilu di Indonesia termasuk pileg penuh dengan permainan uang alias politik transaksional.
Di sisi lain, pemilih atau masyarakatnya juga sangat pragmatis, sehingga politik uang mendapatkan tempat.
"Soal bagi-bagi duit, itu merefleksikan bahwa mereka menang dan duduk di DPRD bukan karena dipercaya, tetapi karena membeli suara," ucapnya
Namun, kembali terpilihnya ia sebagai anggota DPRD Kota Surabaya untuk ketiga kalinya, bagi dirinya ini, merupakan cara alam semesta untuk memberitahukan kepada khalayak soal pentingnya memilih anggota DPRD yang punya kapasitas, punya integritas.
Baca juga: Gerindra Pasang Badan Bela Penolakan Warga Tolak Spiritshaus Surabaya
Kesadaran pada iklim politik yang sehat dan bersih perlu ditanamkan bagi generasi muda atau kaum milenial. Karena bagi Bulek, pendidikan politik pada generasi bangsa menempa diri agar di kemudian hari mampu meneruskan dinamika perpolitikan yang membangun.
"Sambil kemudian mencatat betul, anggota DPRD kalau masih mau mencalonkan diri lagi, soal ketidaklayakan mereka untuk dipilih kembali," ujarnya.
Bulek menegaskan bahwa dirinya telah memberi bukti dan bukan hanya sekedar janji. Selama dua periode (2014–2019 dan 2019–2024) menjabat sebagai anggota Dewan, di Komisi A DPRD Kota Surabaya.
Di akhir wawancara, Bulek mengungkapkan masyarakat Surabaya kini cerdas, mereka akan memilih yang peduli membantu masyarakat.
Editor : Aris S
