Gus Baha/Foto:Istimewa
Mili.id - Munculnya Gus Baha sebagai kandidat calon Ketua Umum Pengurus Besar Nahdahtul Ulama (PBNU) yang dirilis lembaga survey Indostrategic, 8 Oktober 2021, menjadi trending di sejumlah flatform media sosial.
Selain itu, munculnya Gus Baha sebagai kandidat ketua ormas Islam terbesar di Indonesia mendapatkan respon positif dari berbagai kalangan, salah satunya peneliti sosial di Institute for Dogital Democracy (IDD).
Menurutnya, trendingnya nama Gus Baha di media sosial merupakan hal yang lumrah di era demokrasi digital. "Bila dianalisa bisa dimaknai beberapa hal. Pertama, bahwa pemilihan ketum PBNU cukup fenomenal dan sangat dinantikan banyak pihak. Mengingat NU merupakan ormas terbesar di Indonesia dan punya magnet bagi kekuatan politik apapun di Indonesia," kata Bambang, dikutip Senin (11/10).
Di samping itu, munculnya nama Gus Baha untuk menyentil model kepemimpinan PBNU saat ini, yang seolah-olah dekat dengan kekuasan. Walau sebenarnya NU sendiri mengklaim sebagai mitra pemerintah.
Kendati begitu, terang dia, publik sebenarnya ingin NU tetap kritis terhadap kebijakan pemerintah. Karena kebijakan tidak semuanya memihak kepada rakyat.
Baca juga: Mengembalikan Perkara kepada Ahli Ilmu, Bukan Sekadar Lipstik Genit
"Sebab bagaimanapun tidak semua kebijakan pemerintah itu pro rakyat. Jadi diperlukan peran dari semua simpul gerakan masyarakat sipil salah satunya ormas NU untuk tetap kritis," kata Bambang.
Langkah Gus Baha untuk melenggang mulus menjadi ketua umum PBNU, tidak semudah membalikkan tangan. Sebab lanjut dia, ada mekanisme tersendiri terhadap kriteria calon ketua umum PBNU, yang nantinya bakal disepakati dalam forum muktamar ke 34 akhir tahun ini.
Baca juga: "NU Tidak Membutuhkan Kita", Pesan Menyentuh Ketua PBNU tentang Keikhlasan dalam Berkhidmah
"Meski nama Gus Baha santer dibicarakan warganet, tapi tidak mudah untuk langsung masuk kandidat ketum PBNU. Sebab, tetap harus melewati sebuah mekanisme muktamar, seperti mendapatkan dukungan baik dari DPC maupun DPW NU.
Di media sosial, muncul juga sentilan warganet terkait keinginan KH Said Aqil Sirodj yang ingin kembali maju untuk ketiga kalinya. Kendati tidak dilarang, akan tetapi warganet ingin regenerasi di tubuh PBNU
Editor : Redaksi
