Kapolsek Dlanggu Iptu MK Umam saat meninjau rumah Suwito yang terdampak longsoran tebing Sungai Raharjo Tirto (Foto: Nana/mili.id)
Mojokerto - 7 rumah yang berada di ketinggian 30 meter tebing Raharjo Tirto Dusun Ketangi, Desa Ngembeh, Kecamatan Dlanggu, Kabupaten Mojokerto terancam, menyusul longsor yang terjadi.
Awalnya pada Rabu (6/4/2024), ada dua rumah warga yang terdampak longsor tebing karena derasnya aliran sungai. Rumah itu rusak bagian belakang, salah satunya milik Sumito (68) dan Sutami (55).
Baca juga: Baru Bebas Tiga Bulan, Residivis Curanmor Kembali Beraksi di Empat Lokasi
Namun pada Senin (8/4/2024), empat rumah kembali terdampak longsoran tebing di lokasi yang sama, usai hujan mengguyur semalaman.
Rumah yang terdampak di bagian dapur dan kamar mandi itu ilik Iswati (47), kandang kambing di belakang rumah Winarto (42), dan bagian dapur rumah milik Mat Slimin (55), Kasiyan (70).
Kasiyan yang tinggal bersama istrinya Jainah mengaku was-was sejak tebing pasir tanpa tanggul atau penahan sejak 35 tahun lalu itu turut amblas.
"Kondisinya kena longsor. Yang hilang sumur sama wc septitank, kandang ayam juga. Kalau hujan gak bisa tidur, was-was terus, tidurnya di kursi ini. Tapi tetap gak bisa tidur. Tiap malam tertekan," ungkap Kasiyan, Kamis (18/4/2024).
Ia mengaku, tanah itu tergerus setiap tahunnya saat musim penghujan tiba. Utamanya saat banjir, maupun kiriman air dari wilayah Pacet.
Penampakan longsor tebing Sungai Wakrejo, Dlanggu, Mojokerto (Foto: Nana/mili.id)
Awalnya, jarak bibir sungai atau tebing dengan bangunan rumahnya sejauh 20 meter lebih. Namun kini, posisi bangunan rumah berada persis di atas tebing yang longsor.
Baca juga: Tergiur Ritual Penggandaan Uang, Warga Kehilangan Rp22 Juta di Mojokerto
"Banjir terus, terus hancur. Kalau ada banjir gede hancur, setiap tahun. Yang terakhir yah ini, makin parah," sambung Kasiyan.
Sementara Sumito yang lebih dulu mengalami longsor pada Maret lalu mengaku kehilangan area dapur beserta perabotannya. Meski begitu, ia dan keluarganya terpaksa masih bertahan di rumah tersebut.
"Tanahnya itu katut (terbawa) air. Yang hilang bagian dapur dan perabotan-perabotan," jelas Sumito.
Longsor tebing ini, lanjut Sumito, sudah terjadi tiga kali sejak awal Maret lalu hingga pertengahan April 2024 ini. Hal itu membuat warga di sepanjang tebing resah, dan memilih berjaga-jaga khawatir ada longsor susulan.
"Ini gak sekali saja, tapi sudah tiga kali sehak hujan pertama (6/3/2024). Sungai ini arusnya deras langsung natap (menghamtam) sini. Kalau hujan yah tidurnya gak tenang, soalnya kalau ambruk gitu bunyinya bruaakkk gitu," keluh Sumito.
Baca juga: Pemkot Mojokerto Gandeng 30 Penyedia Makan Minum, Harga Nasi Kotak Ditetapkan Lewat Kontrak Payung
Kapolsek Dlanggu, Iptu MK Umam yang mendapati laporan adanya penambahan rumah warga terdampak longsor Sungai Wakrejo, lalu melakukan pengecekan.
"Awalnya ada dua rumah waktu hujan lebat bulan Maret lalu. Kemudian ini tadi dicek kembali ada empat rumah yang terdampak lagi. Sedangkan satu rumah lainnya sudah terdampak sejak dulu. Jadi total ada tujuh rumah," beber Umam.
Umam mengimbau agar warga segera mengungsi ke tempat aman jika hujan turun dengan intensitas tinggi. Sebab kondisi lokasi sangat membahayakan.
"Saya berharap apabila hujan, agar segera mengungsi di balai desa dan warga desa yang aman," pungkas Umam.
Editor : Narendra Bakrie
