Suasana Warung Pawon Sego Lego di Trawas, Mojokerto (Foto: Nana/mili.id)
Mojokerto - Sederet menu makanan dihidangkan secara prasmanan di Warung Pawon Sego Lego Desa Jatijejer, Kecamatan Trawas, Kabupaten Mojokerto.
Siapa sangka, dari sebanyak itu menu yang disajikan, semuanya dimasak menggunakan tungku dan kayu bakar. Rasanya begitu khas dan menggoyang lidah.
Baca juga: Pandawa Warung Kopi Saat Rindu Menjadi Rasa, dan Sydney Menjadi Indonesia
Warung ini berada di pinggir Jalan Raya Mojosari-Trawas, berdiri di lahan seluas sekitar 1 hektare. Bangunan warung terbuat dari kayu bekas. Dan hampir keseluruhan tekstur kayunya dibiarkan alami, tanpa dicat.
"Makan di sini ini seperti makan di area persawahan," ungkap Suparmi, salah satu pelanggan yang datang bersama suaminya Sukir dan anak-anaknya, Minggu (5/5/2024).
Menu makanan tradisional disajikan dengan prasmanan, mulai sayur daun pepaya, pare, ayam lodho, aneka ikan. Dan menu andalan di sini adalah lodeh kikil gendeng.
Suasana Warung Pawon Sego Lego di Trawas, Mojokerto
Olahan ini berupa kikil berukuran besar tanpa dipotong, dan dapat dinikmati empat orang.
"Bedanya ini lebih besar dan lebih mantap, tidak sama dengan yang telah dipotong kecil-kecil," tambah Sukir, suami Suparmi.
Baca juga: Baru Bebas Tiga Bulan, Residivis Curanmor Kembali Beraksi di Empat Lokasi
Untuk menikmati menu kikil utuh tersebut, pengunjung harus merogoh kantong sebesar Rp 100 ribu per porsi. Ini belum termasuk nasi yang bebas mengambil saat akan tambah.
"Harganya sesuai, karena porsinya memang untuk empat orang," ujar dia.
Sementara Agung Sugiarto, pemilik rumah makan itu menjelaskan, konsep etnik pedesaan diambil agar para pengunjung yang menyantap makan di tempatnya serasa seperti di kampung halaman.
"Ini semua bangunan terbuat dari kayu etnik primitif, terbuat kayu sampah, bukan kayu baru," jelas dia.
Baca juga: Tergiur Ritual Penggandaan Uang, Warga Kehilangan Rp22 Juta di Mojokerto
Suasana Warung Pawon Sego Lego di Trawas, Mojokerto
Sedangkan menunya, lanjut Agung, dimasak oleh sejumlah pemasak dengan menggunakan kayu bakar, sehingga memiliki rasa yang berbeda.
"Makananya diolah dari kayu bakar, jadi natural agak bau-bau sangit," tutur dia.
Rumah makan yang buka belum genap satu bulan ini kerap jadi jujugan wisatawan yang hendak berkunjung maupun kembali dari wisata Trawas, Mojokerto.
Editor : Narendra Bakrie
