Sehari Produksi Ratusan Kilogram Pentol, Pria di Mojokerto Raup Cuan Puluhan Juta

Sehari Produksi Ratusan Kilogram Pentol, Pria di Mojokerto Raup Cuan Puluhan Juta © mili.id

Usaha yang berlokasi di sebelah selatan wisata religi makam Troloyo, Desa Sentonorejo, Trowulan, Mojokerto, ini diberi nama "Habib". (nana/mili.id)

Mojokerto - Produksi pentol kiloan di Kabupaten Mojokerto mencapai 300 kg hingga 1 ton per hari. Home industri ini dipunggawai Sugeng Pamuji, warga Kecamatan Trowulan, Kabupaten Mojokerto.

Pria 44 tahun itu bahkan meraup omzet puluhan juta rupiah setiap bulan dari produksi jajanan tradisional serupa seperti bakso.

Usaha yang berlokasi di sebelah selatan wisata religi makam Troloyo, Desa Sentonorejo, Trowulan, Mojokerto, ini diberi nama "Habib".

Nama tersebut diambil dari dua putra Sugeng, yakni Hasriel dan Habibie. Kini kios pentol milik Sugeng ramai dikunjungi pelanggan.

Ratusan orang rela berdesakan untuk mendapatkan berbagai varian pentol favorit mereka. Mulai dari pentol gajeh, pentol Rp 500-an, kasar, ranjau, solo, krikil, jamur, kribo, tanggung, dan jumbo. Selain pentol, di kios ini juga tersedia siomay, tahu walek, bakso, dan sempol.

Pentol yang dijual di kios Sugeng tersedia dalam berbagai kemasan, mulai dari 0,5 kg hingga 1 kg. Untuk kemasan 0,5 kg, harga jualnya berkisar antara Rp 10.000 hingga Rp 15.000, sementara untuk kemasan 1 kg, harga jualnya mencapai Rp 35.000.

Sugeng mengungkapkan, omzet bersih yang dihasilkan dari penjualan pentol mencapai sekitar Rp 30 juta per bulan, dengan produksi 300 kg per hari. Namun, nampaknya ia belum berani membeberkan pasti omzet saat produksi mencapai 1 ton per hari.

"Kalau dihitung omzet kotor, bisa mencapai Rp 6-7 juta per hari. Tapi kalau untuk omzet saat produksi 1 ton, saya tidak berani menyebutkan, takut ada yang cemburu," ucapnya pada mili.id.

Meski tidak memanfaatkan media sosial untuk mempromosikan produknya, Sugeng mengaku usahanya dikenal luas berkat promosi dari mulut ke mulut.

Pelanggan yang datang, selain dari masyarakat umum, juga berasal dari rombongan peziarah di makam Troloyo dan outing kelas.

Bahkan, banyak pelanggan yang memposting pembelian mereka di Instagram atau WhatsApp, yang kemudian menarik perhatian pelanggan baru.

"Pembeli kami cukup seimbang, ada yang dari kalangan masyarakat umum dan juga peziarah di makam Troloyo. Kadang ada juga rombongan outing kelas, meski jarang. Biasanya, mereka tahu dari pelanggan yang sudah pernah datang," bebernya.

Pentol yang diproduksi Sugeng dibuat dari bahan-bahan yang mudah ditemukan di pasar tradisional, seperti daging sapi, ayam, tepung, dan bumbu-bumbu lainnya.

Dengan dibantu oleh istri dan dua karyawan, Sugeng mampu memproduksi hingga 300 kg pentol setiap harinya. Proses produksi dimulai pada pukul 07.30 WIB hingga 12.00 WIB.

Proses pembuatan pentol diawali dengan membeli daging ayam dan sapi di pasar tradisional. Setelah daging digiling dan dicuci bersih, langkah selanjutnya adalah mencampurkan bumbu dan tepung. Terakhir, pentol dicetak sesuai varian dan dimasak.

Ayah dua anak ini mengaku, saat bulan Ramadan, produksinya makim meningkat pesat. Bahkan, ia bisa memproduksi hingga 1 ton pentol per hari, khususnya pada malam ke-21 hingga hari raya Idul Fitri. Untuk memenuhi permintaan yang tinggi selama Ramadan, Sugeng juga menambah dua karyawan lepas.

Sugeng mengawali usahanya pada tahun 2019 dengan hanya menjual satu varian pentol secara keliling dari kampung ke kampung.

Dengan modal awal yang terbatas, ia juga meminjam uang sebesar Rp 20 juta dari bank untuk membuka usaha di rumahnya pada tahun 2021.

Meskipun usaha sempat sepi, Sugeng tidak menyerah. Berkat kerja keras dan konsistensi, usaha pentol kiloannya mulai berkembang pada tahun 2022, sehingga ia harus merekrut dua karyawan tetap.

"Awalnya memang sepi, tapi alhamdulillah, dengan konsisten memperkenalkan produk ke teman-teman, akhirnya usaha ini dikenal orang dan pesanan mulai datang," ujarnya.

Ia pun mengaku jika salah satu alasan usahanya tetap bertahan hingga kini adalah karena ia tidak pernah mengubah harga jual meskipun harga bahan baku terus meningkat.

"Saya tidak merubah harga, meskipun harga bahan baku di pasar tradisional naik. Selama masih tidak merugi, saya tetap pertahankan harga tersebut," pungkasnya.

Baca juga: Baru Bebas Tiga Bulan, Residivis Curanmor Kembali Beraksi di Empat Lokasi

Editor : Achmad S



Berita Terkait