6 Februari 100 Tahun Lalu, Sastrawan Pramoedya Ananta Toer Lahir

6 Februari 100 Tahun Lalu, Sastrawan Pramoedya Ananta Toer Lahir © mili.id

Pramoedya Ananta Toer di usia senja masih aktif menulis (Foto: Istimewa)

Surabaya, mili.id - 6 Februari 1925 atau 100 tahun lalu, Pramoedya Ananta Toer, Sastrawan Indonesia dilahirkan di Blora, Jawa Tengah.

Pramoedya lahir dari rahim Oemi Saidah, suami Mastoer.

Baca juga: Ramalan Zodiak 16 Februari 2025: Aquarius Jangan Lupa Bayar Tagihan dan Pinjaman

Pria pemilik nama asli Pramoedya Ananta Mastoer itu merupakan anak sulung dalam keluarganya. Ayahnya adalah seorang guru, sedangkan ibunya penjual nasi.

Perjalanan Hidup Pramoedya Ananta Toer

Pada masa kemerdekaan Indonesia, ia mengikuti kelompok militer di Jawa dan kerap ditempatkan di Jakarta pada akhir perang kemerdekaan.

Ia menulis cerpen serta buku di sepanjang karier militernya dan ketika dipenjara Belanda di Jakarta pada 1948 dan 1949.

Ketika Tahun 1950-an, ia tinggal di Belanda sebagai bagian dari program pertukaran budaya, dan setelahnya kembali ke Indonesia ia menjadi anggota Lekra, salah satu organisasi sayap kiri di Indonesia.

Gaya penulisannya berubah selama masa itu, sebagaimana yang ditunjukkan dalam karyanya "Korupsi", fiksi kritik pada pamong praja yang jatuh di atas perangkap korupsi. Hal ini menciptakan friksi antara Pramoedya dan pemerintahan Soekarno.

Selama masa itu, ia mulai mempelajari penyiksaan terhadap Tionghoa Indonesia. Kemudian pada saat yang sama, ia pun mulai berhubungan erat dengan para penulis di Tiongkok.

Khususnya, ia menerbitkan rangkaian surat-menyurat dengan penulis Tionghoa yang membicarakan sejarah Tionghoa di Indonesia, berjudul Hoakiau di Indonesia.

Pram merupakan kritikus yang tak mengacuhkan pemerintahan Jawa-sentris pada keperluan dan keinginan dari daerah lain di Indonesia. Ia pernah secara gamblang mengusulkan bahwa pemerintahan mesti dipindahkan ke luar Jawa.

Pada 1960-an, ia ditahan pemerintahan Soeharto karena pandangan pro-Komunis Tiongkoknya. Bukunya dilarang dari peredaran, dan ia ditahan di Nusakambangan, di lepas pantai Jawa, dan akhirnya di Pulau Buru di kawasan timur Indonesia.

Bumi Manusia Karya Pramoedya Ananta Toer

Selain pernah ditahan selama 3 tahun pada masa kolonial dan 1 tahun pada masa Orde Lama, selama masa Orde Baru, Pramoedya merasakan 14 tahun ditahan sebagai tahanan politik. Pram pernah ditahan di Nusakambangan, Pulau Buru dan Magelang.

Pram dilarang menulis selama masa penahanannya di Pulau Buru. Namun masih dapat menyusun serial karya terkenalnya yang berjudul Bumi Manusia, 4 roman semi-fiksi sejarah Indonesia yang menceritakan perkembangan nasionalisme Indonesia dan sebagian berasal dari pengalamannya sendiri saat tumbuh dewasa.

Pram kemudian dibebaskan dari tahanan pada 21 Desember 1979 dan mendapatkan surat pembebasan tidak bersalah secara hukum dan tidak terlibat Gerakan 30 September.

Namun, dia masih dikenakan tahanan rumah di Jakarta hingga 1992, serta tahanan kota dan tahanan negara hingga 1999, dan juga wajib lapor satu kali seminggu ke Kodim Jakarta Timur selama kurang lebih 2 tahun.

Masa Tua Pramoedya Ananta Toer

Pramoedya telah menulis banyak kolom dan artikel pendek yang mengkritik pemerintahan Indonesia terkini.

Ia menulis buku Perawan Remaja dalam Cengkraman Militer, dokumentasi yang ditulis dalam gaya menyedihkan para wanita Jawa yang dipaksa menjadi wanita penghibur selama masa pendudukan Jepang.

Semuanya dibawa ke Pulau Buru, di mana mereka mengalami kekerasan seksual, berakhir tinggal di sana dan tidak kembali ke Jawa.

Pramoedya membuat perkenalannya saat ia sendiri merupakan tahanan politik di Pulau Buru selama masa 1970-an.

Sampai akhir hayatnya ia aktif menulis, walaupun kesehatannya telah menurun akibat usianya yang lanjut dan kegemarannya merokok.

Baca juga: Prakiraan Cuaca Indonesia 16 Februari 2025, Jateng dan NTT Waspada Hujan Sangat Lebat

Pada 12 Januari 2006, ia dikabarkan telah dua minggu terbaring sakit di rumahnya di Bojong Gede, Bogor, dan dirawat di rumah sakit.

Menurut laporan, Pram menderita diabetes, sesak napas, dan jantungnya melemah.

Pada 6 Februari 2006 di Teater Kecil Taman Ismail Marzuki, diadakan pameran khusus tentang sampul buku dari karya Pramoedya. Pameran ini sekaligus hadiah ulang tahun ke-81 untuk Pram.

Pameran bertajuk "Pram, Buku, dan Angkatan Muda" menghadirkan sampul-sampul buku yang pernah diterbitkan di mancanegara. Ada sekitar 200 buku yang pernah diterjemahkan ke berbagai bahasa dunia.

Akhir Hayat Pramoedya Ananta Toer

Pada 27 April 2006, Pram sempat tak sadar diri. Pihak keluarga akhirnya memutuskan membawanya ke Rumah Sakit Saint Carolus hari itu juga.

Pram didiagnosis menderita radang paru-paru, penyakit yang selama ini tidak pernah menjangkitinya, ditambah komplikasi ginjal, jantung, dan diabetes.

Pram hanya bertahan tiga hari di rumah sakit. Setelah sadar, dia kembali meminta pulang. Meski permintaan itu tidak direstui dokter, Pram bersikeras ingin pulang.

Sabtu 29 April, sekitar pukul 19.00, begitu sampai di rumahnya, kondisinya jauh lebih baik. Meski masih kritis, Pram sudah bisa memiringkan badannya dan menggerak-gerakkan tangannya.

Kondisinya sempat memburuk lagi pada pukul 20.00. Pram masih dapat tersenyum dan mengepalkan tangan ketika sastrawan Eka Budianta menjenguknya. Pram juga tertawa saat dibisiki para penggemar yang menjenguknya bahwa Soeharto masih hidup.

Kondisi Pram memang sempat membaik, lalu kritis lagi. Pram kemudian sempat mencopot selang infus dan menyatakan bahwa dirinya sudah sembuh. Dia lantas meminta disuapi havermut dan meminta rokok.

Baca juga: Ramalan Zodiak 6 Februari 2025: Waktu yang Tepat Capricorn Ajak Jalan Gebetan

Namun, tentu saja permintaan tersebut tidak diizinkan keluarga. Mereka hanya menempelkan batang rokok di mulut Pram tanpa menyulutnya. Kondisi tersebut bertahan hingga pukul 22.00.

Setelah itu, beberapa kali dia kembali mengalami masa kritis. Pihak keluarga pun memutuskan menggelar tahlilan untuk mendoakan Pram. Pasang surut kondisi Pram tersebut terus berlangsung hingga pukul 02.00. Saat itu, dia menyatakan agar Tuhan segera menjemputnya.

Teman-teman dan kerabat yang menjaga Pram tak lelah memberi semangat hidup. Rumah Pram yang asri tidak hanya dipenuhi anak, cucu, dan cicitnya. Tapi, teman-teman hingga para penggemarnya ikut menunggui Pram.

Kabar meninggalnya Pram sempat tersiar sejak pukul 03.00. Tetangga-tetangga sudah menerima kabar duka tersebut. Namun, pukul 05.00, mereka kembali mendengar bahwa Pram masih hidup.

Terakhir, ketika ajal menjemput, Pram sempat mengerang: "Akhiri saja saya. Bakar saya sekarang".

Pada 30 April 2006 pukul 08.55, Pram dinyatakan wafat dalam usia 81 tahun.

Setelah kabar kematian Pram tersiar ke segala penjuru Nusantara, ratusan pelayat tampak memenuhi rumah dan pekarangan Pram di Jalan Multikarya II Nomor 26, Utan Kayu, Jakarta Timur.

Pelayat yang hadir antara lain dari kalangan aktivis, pengurus partai, pejabat publik, pemerintah pusat hingga teman-temannya yang pernah ditahan di Pulau Buru juga hadir melayat. Termasuk para anak muda fans Pram.

Jenazah dimandikan pukul 12.30 WIB, lalu disalatkan. Setelah itu, dibawa keluar rumah untuk dimasukkan ke ambulans yang membawa Pram ke TPU Karet Bivak.

Editor : Narendra Bakrie



Berita Terkait