Tottenham Mandek di Bursa Transfer: Belanja Jalan, Jualan Macet

Tottenham Mandek di Bursa Transfer: Belanja Jalan, Jualan Macet © mili.id

Totenham Hotspur saat juara Liga Europa(ANDER GILLENEA/AFP)

London, mili.id - Tottenham Hotspur menghadapi tantangan besar di bursa transfer musim panas ini. Hingga memasuki awal Agustus 2025, belum ada satu pun pemain tim utama yang berhasil dilepas oleh klub. Situasi ini menyulitkan pelatih baru Thomas Frank dalam upayanya melakukan perombakan skuad yang dibutuhkan untuk membangun era baru di London Utara.

Kondisi tersebut diperparah oleh peringatan yang disampaikan Daniel Levy sejak Maret lalu. Chairman Tottenham itu menegaskan bahwa klub harus mulai beroperasi sesuai dengan kemampuan keuangan mereka. Peringatan itu bukan tanpa alasan. Untuk tahun fiskal yang berakhir pada Juni 2024, Tottenham mencatatkan kerugian pasca-pajak sebesar 26,2 juta pound. Angka ini memang menurun drastis dibandingkan tahun sebelumnya yang mencapai 86,8 juta pound, namun tetap menjadi sinyal bahaya terkait stabilitas finansial klub.

Baca juga: Tottenham Gagal Menang di London Barat, Brentford Tahan Spurs Tanpa Gol

Tottenham sempat menunjukkan pergerakan menjanjikan di awal bursa transfer dengan mengamankan Mohammed Kudus dari West Ham United seharga 55 juta pound dan merekrut bek muda Jepang, Kota Takai, dari Kawasaki Frontale. Mereka juga mengubah status peminjaman Mathys Tel dan Kevin Danso menjadi permanen. Namun, momentum tersebut mulai meredup, terutama karena negosiasi yang alot untuk mendapatkan Morgan Gibbs-White. Di saat yang sama, tidak ada pendapatan berarti dari penjualan pemain, memperlihatkan bahwa akar masalah utama Spurs belum terselesaikan: mereka sangat kesulitan dalam menjual pemain.

Sejak mencapai final Liga Champions pada 2019, Tottenham menjadi salah satu klub dengan pengeluaran terbesar untuk belanja pemain. Total investasi neto mereka mencapai lebih dari 700 juta pound, menempatkan mereka di posisi kelima secara global dalam hal pengeluaran. Namun ironisnya, mereka justru berada di posisi ke-44 dalam hal pendapatan dari penjualan pemain. Menurut data dari Transfermarkt, Spurs hanya meraup 293,6 juta pound dari penjualan pemain sejak 2019, dan lebih dari sepertiganya berasal dari penjualan Harry Kane ke Bayern Munchen pada 2023 senilai 86,5 juta pound.

Jika nama Kane dikeluarkan dari hitungan, sisa pendapatan dari penjualan pemain hanya menyentuh angka 66,4 juta pound dalam enam tahun terakhir. Sebagai perbandingan, Chelsea mencatat jumlah itu hanya dalam satu jendela transfer musim panas ini. Bahkan jika dibandingkan dengan klub-klub yang lebih kecil seperti Southampton, Leicester City, Leeds United, atau Bournemouth, performa Spurs dalam hal jual beli pemain tergolong sangat lemah.

Baca juga: Hasil Lengkap Liga Inggris Pekan 4: Arsenal Berpesta, Spurs Perkasa

Laporan The Telegraph menunjukkan bahwa ada dua penyebab utama di balik sulitnya Spurs menjual pemain. Pertama, klub sering menetapkan valuasi yang terlalu tinggi terhadap pemain mereka, yang membuat banyak klub lain enggan melanjutkan proses negosiasi. Kedua, mereka sering gagal melepas pemain di waktu yang tepat. Empat pemain inti yang tampil di final Liga Champions 2019 misalnya, semuanya akhirnya hengkang secara gratis setelah tidak dilepas lebih awal saat nilai pasarnya masih tinggi.

Kondisi ini menjadi pukulan berat bagi Tottenham di musim panas ini. Menurut pakar keuangan sepak bola Stefan Borson, masalah utama Spurs saat ini bukan hanya soal regulasi Financial Fair Play, melainkan menyangkut likuiditas murni. Klub kekurangan dana segar untuk membayar pembelian pemain baru. Daniel Levy tidak bisa menyuntikkan dana pribadi karena kepemilikannya berupa saham, dan satu-satunya sumber pendanaan saat ini hanyalah Lewis Trust, bukan Joe Lewis secara langsung. Bahkan menambah utang pun sudah bukan lagi pilihan yang memungkinkan.

Baca juga: PSG Comeback Dramatis, Taklukkan Tottenham dan Angkat Trofi Piala Super Eropa 2025

Spurs kini mencoba menjaga aset yang masih mereka miliki. Kontrak Son Heung-min secara otomatis diperpanjang untuk melindungi nilai jualnya. Beberapa klub Arab Saudi seperti Al Ahli, Al Nassr, dan Al Qadsiah dikabarkan bersedia membayar 34 juta pound untuk pemain asal Korea Selatan itu, meski nilainya menurun drastis dibandingkan tawaran 51 juta pound pada 2023. Sementara itu, dua pemain lain, Yves Bissouma dan Richarlison, tetap dibawa dalam tur pramusim ke Asia meskipun klub terbuka terhadap penawaran yang masuk.

Tottenham kini berada dalam posisi yang rapuh. Mereka membutuhkan dana untuk membangun ulang tim dan memenuhi ambisi pelatih baru, namun tanpa penjualan pemain, jalan itu semakin tertutup. Jika situasi ini tidak segera berubah, Thomas Frank bisa memulai musim pertamanya dengan skuad yang penuh beban lama dan tanpa ruang manuver yang memadai.

Editor : Erwin Muhammad



Berita Terkait