Budidaya lebah tanpa sengat di Hutan Pinus Karacak (Foto-foto: IPB University)
Bogor, mili.id - Hutan pinus Desa Karacak, Kabupaten Bogor yang merupakan kawasan hutan lindung dan sumber kehidupan ekosistem lokal, kini menjadi lokasi pengembangan budidaya lebah tanpa sengat jenis tetragonula laeviceps.
Program ini merupakan bagian dari Program Penguatan Kapasitas Ormawa (PPKO) yang dijalankan Forest Management Students’ Club (FMSC), Fakultas Kehutanan dan Lingkungan, IPB University.
Baca juga: Cukup 6 Bulan-Budidaya Jamur Tiram Raup Cuan, Mau Coba?
Tujuan kegiatan ini adalah meningkatkan kapasitas organisasi mahasiswa dalam mendampingi masyarakat desa melalui inovasi berbasis potensi lokal.

Lebah tetragonula laeviceps merupakan salah satu jenis lebah tanpa sengat yang tergolong dalam Kingdom Animalia, Kelas Insecta, Ordo Hymenoptera, Famili Apidae, dan Genus Tetragonula.
Jenis lebah ini memiliki peran penting dalam ekosistem sebagai agen penyerbuk alami.
Secara morfologis, lebah ini memiliki tubuh berwarna hitam mengilap, antena dan mandibula berwarna cokelat kekuningan, serta bagian thoraks yang tertutup rambut berwarna cokelat hingga hitam.
Ukuran tubuhnya relatif kecil, dengan panjang antara 3,44–3,76 mm dan lebar kepala sekitar 1,55–1,70 mm.
Pintu masuk sarangnya berbentuk oval dan menyerupai corong.
Lebah ini tidak memiliki sengat, mudah didomestikasi, dan sangat adaptif terhadap lingkungan sekitar.
Koloni lebah pertama ditemukan di kawasan hutan pinus Karacak saat survei lapangan yang dilakukan pada 11 Agustus 2025. Survei lanjutan pada 15 Agustus 2025 berhasil menemukan total 25 koloni aktif.
Baca juga: Tim PPK Ormawa FMSC 2025 Bawa Inovasi Leuweung Mukti ke Panggung Internasional

Dalam kegiatan tersebut, tim mahasiswa juga berdiskusi dengan warga RW 07, termasuk para petani lokal yaitu Dede, Asep, dan Sani, untuk menjajaki potensi pengembangan budidaya lebah secara berkelanjutan.
Metode budidaya yang dipilih adalah teknik cangkok lebah. Teknik ini merupakan cara pemindahan koloni dari habitat alami ke kotak sarang buatan tanpa merusak koloni induk.
Proses pencangkokan dilakukan dengan memperhatikan kondisi lingkungan sekitar, ketersediaan pakan dan resin, serta ukuran kotak yang disesuaikan dengan morfologi lebah.
Musim kemarau, seperti saat ini, menjadi waktu yang ideal untuk melakukan proses pencangkokan karena kondisi lingkungan lebih stabil.
Baca juga: Tim PPK Ormawa FMSC 2025 IPB Kembangkan Hutan Pangan di Desa Karacak, Kabupaten Bogor
Lebah tetragonula laeviceps menghasilkan madu dalam pot kecil yang disimpan di dalam sel-sel sarang. Pemanenan dilakukan secara rotasi, dengan frekuensi panen sekitar empat bulan sekali per koloni.
Sarang lebah ini memiliki dua jenis sel penyimpanan: satu untuk polen (yang lebih padat) dan satu untuk madu (yang lebih cair). Karena ukuran pot madu yang kecil, proses panen dilakukan menggunakan mesin penyedot agar tidak merusak struktur sarang.

Melalui kegiatan ini, PPKO FMSC IPB berupaya mendorong sinergi antara konservasi dan peningkatan kesejahteraan masyarakat.
Budidaya lebah tanpa sengat di Karacak diharapkan menjadi model pemberdayaan berbasis ekologi yang dapat terus dikembangkan oleh warga secara mandiri ke depannya.
Editor : Narendra Bakrie
