Ekspresikan #KaburAjaDulu, 30 Mahasiswa UMSurabaya ke Singapura Ikuti Learning Expres

Ekspresikan #KaburAjaDulu, 30 Mahasiswa UMSurabaya ke Singapura Ikuti Learning Expres © mili.id

Surabaya, mili.id - 30 mahasiswa Universitas Muhammadiyah Surabaya (UMSurabaya) akan berada di Singapura selama 14 hari untuk mengekspresikan #KaburAjaDulu ditengah ramainya gelombang demonstrasi dan peristiwa sosial politik yang mengguncang sejumlah daerah di Indonesia.

Dana untuk perjalanan dan biaya hidup selama di Negeri Singa, mereka didanai Temasek Foundation Internasional. Tak hanya itu para mahasiswa UM Surabaya itu juga berkesempatan mengikuti program Learning Express dan TF Scale hasil kolaborasi dengan Singapore Polytechnic.

Baca juga: Unik, UMSURA Beri Potongan Biaya Kuliah Lewat Program “Tiket Berdampak”

Wakil Rektor Bidang Riset, Kerja Sama, dan Digitalisasi UMSurabaya, Radius Setiyawan mengatakan, di tengah hiruk-pikuk isu sosial dan politik yang kerap memenuhi ruang publik, mahasiswa UMSurabaya memilih jalan berbeda: #KaburAjaDulu# bukan untuk lari dari masalah, tetapi untuk belajar, berjejaring, dan menghadirkan ide-ide segar bagi masyarakat.

"#KabarAjaDulu ini merupakan manifestasi belajar di luar negeri, dengan harapan membawa banyak pengalaman ketika kembali di Indonesia. Gerakan mahasiswa tidak hanya diwujudkan melalui demonstrasi atau kritik, tetapi juga lewat upaya belajar, berjejaring, dan memberi kontribusi nyata,” ujar Radius, Sabtu (6/9/2025).

Radius menambahkan, para mahasiswanya tidak akan melewatkan kesempatan dari Temasek Foundation ini, karena mereka tetap harus menjadi agent of change dan agent of control. Maka dari itu untuk mewujudkan program internasionalisasi, kampus membekali mahasiswa dengan pengalaman global.

“UMSurabaya sebelumnya juga telah memberangkatkan mahasiswa KKN ke Korea Selatan dan Taiwan. Tahun depan kami berharap agenda ini terus berlanjut. Internasionalisasi bukan hanya berhenti pada MoU, tetapi aplikasi nyata yang berdampak,” ungkap Radius.

Lebih jauh, program ini bersifat timbal balik. Pada akhir September mendatang, mahasiswa asal Singapura juga akan datang ke Indonesia, tepatnya di Surabaya.

“Mereka akan melakukan pengabdian masyarakat di kawasan Keputih. Tahun-tahun sebelumnya program ini sempat berlangsung di Lamongan. Jadi mahasiswa bukan hanya belajar di luar negeri, tetapi juga bisa menularkan praktik baik di lingkungan sekitar kita,” imbuhnya.

Kepala Lembaga Riset, Inovasi dan Pengabdian Masyarakat (LRIPM) UMSurabaya, Arin Setyowati mengatakan untuk menganalisis permasalahan sosial, khususnya kesehatan lansia di Singapura, para mahasiswa akan menggunakan pendekatan design thinking dalam program ini.

Baca juga: Kisah Inspiratif Bonifacius David, Mahasiswa Difabel UMSurabaya Lulus Cumlaude Berkat Dukungan Ibu

“Tema tahun ini adalah “Healthcare for the Elderly”. Mahasiswa UMSurabaya bersama mahasiswa Singapore Polytechnic akan berkolaborasi menciptakan solusi inovatif bagi kebutuhan lansia, baik di bidang kesehatan fisik maupun mental,” ujar Arin.

Menurut Arin, kondisi di Singapura menunjukkan bahwa lansia tetap mendapat perhatian di berbagai aspek kehidupan, termasuk kesempatan bekerja dan akses fasilitas publik.

"Kegiatan para mahasiswa nantinya meliputi pembelajaran di kelas, diskusi, observasi lapangan, hingga wawancara dengan komunitas lokal. Hal ini menjadi inspirasi bagi mahasiswa UMSurabaya untuk menangkap isu-isu relevan sekaligus membangun kepekaan sosial lintas generasi," beber Arin.

Untuk menujang praktik para mahasiswa diSingapura, UMSurabaya juga mengembangkan sejumlah teknologi yang relevan untuk mendeteksi Kesehatan dan tingkat stres pada lansia yang dinamakan Sejiwa.

"Alat Sejiwa bekerja untuk mendeteksi kelenjar keringat di dua jari serta memantau detak jantung. Data yang diperoleh kemudian diolah untuk menentukan tingkat stres, mulai dari rileks, tenang, cemas, hingga level stres tinggi," ungkap Arin

Baca juga: UM Surabaya Kukuhkan 2 Gubes Bidang Ilmu Keperawatan Komunitas dan Bahasa Indonesia

Ada juga teknologi EmoSafe: platform kesehatan mental yang membantu individu mengelola emosi serta melatih pola pernapasan agar tetap tenang.

“Harapannya teknologi ini dapat dikolaborasikan dan disesuaikan dengan kebutuhan masyarakat lansia di Singapura,”pungkasnya.

Salah satu peserta, Rahma Nur Aini, mahasiswa Pendidikan Bahasa Inggris FKIP UM Surabaya, mengaku sudah mempersiapkan diri melalui kursus bahasa dan pembekalan administrasi.

“Kami ingin mengenalkan kampus ke kancah internasional sekaligus membangun relasi. Harapannya, pengalaman ini bisa membuka peluang beasiswa, ide penelitian, hingga topik skripsi,” ujarnya.

Editor : Redaksi



Berita Terkait