Harga Turun, Sapera Justru Jadi Primadona! Kisah Polisi di Mojokerto yang Sukses Bangun 5 Kandang

Harga Turun, Sapera Justru Jadi Primadona! Kisah Polisi di Mojokerto yang Sukses Bangun 5 Kandang © mili.id

Aiptu Iswanjoni (43) saat menunjukan kambing sapera yang sudah laku, di Kelurahan Gunung Gedangan, Kecamatan Magersari, Kota Mojokerto, Selasa (12/05/2026).

Mili.id – Di tengah tren harga jual kambing yang cenderung menurun dalam beberapa bulan terakhir, satu jenis kambing justru tetap jadi buruan para penghobi ternak maupun pembeli bibit premium.
Namanya kambing Sapera. Tubuh proporsional, postur gagah, dan potensi produksi susu yang menjanjikan membuat jenis ini menjadi primadona baru di kalangan peternak.
Fenomena itu terlihat di peternakan “Sobat Ngarit” milik Aiptu Iswanjoni (43). Sosok polisi aktif yang sehari-hari bertugas di Polsek Kemlagi itu ternyata punya dunia lain yang tak kalah menyita perhatian: beternak kambing dan domba.
Pria asli Mojoanyar, Kabupaten Mojokerto itu mengaku, dunia peternakan awalnya hanya coba-coba. Tiga tahun lalu, ia mulai memelihara beberapa ekor kambing sebagai kegiatan sampingan.
Namun siapa sangka, hobinya itu justru berkembang menjadi usaha serius dengan lima kandang yang tersebar di sejumlah wilayah Mojokerto-Jombang.
“Saya awalnya memang iseng, ingin belajar ternak. Ternyata makin ke sini makin menikmati, apalagi banyak teman dan pembeli yang tertarik,” ujar ayah dua anak saat ditemui di lapak jualannya di Kelurahan Gunung Gedangan, Kecamatan Magersari, Kota Mojokerto, Selasa (12/05/2026).
Kini, peternakan Sobat Ngarit miliknya memiliki dua kandang di Kemlagi, satu kandang di Mojoanyar Kabupaten Mojokerto. Sedang di Kabupaten Jomban masing-masing satu kandang ada di Wonosalam, satu kandang di Ngusikann
Dari berbagai jenis kambing yang dipelihara, Sapera menjadi salah satu yang paling banyak menarik perhatian pengunjung. Selain Sapera, Iswanjoni juga memelihara kambing Etawa, Jawarandu, hingga Saanen jenis kambing perah premium yang dikenal memiliki harga tinggi.
Salah satu kambing Saanen koleksinya bahkan sudah laku terjual hingga Rp 6 juta per ekor. Menurutnya, harga tersebut dipengaruhi faktor usia, postur tubuh, hingga bentuk tanduk yang unik menyerupai kijang.
“Saanen ini memang jadi salah satu primadona. Usianya sekitar tiga sampai tiga setengah tahun, tanduknya unik, body-nya juga bagus. Sudah ada yang terjual Rp6 juta,” ungkapnya.
Meski begitu, perhatian pembeli belakangan justru banyak tertuju pada kambing Sapera. Perpaduan karakter kambing Saanen dan Peranakan Etawa membuat jenis ini dianggap memiliki nilai ekonomi dan prospek budidaya yang menjanjikan.
Harga kambing di pasaran memang sedang mengalami penurunan. Namun menurut Iswanjoni, kambing-kambing berkualitas tetap memiliki pasar tersendiri.
“Kalau kambing bagus, sehat, genetiknya jelas, pembeli tetap cari. Sapera ini salah satu yang sekarang banyak diminati,” katanya.
Perawatan kambing-kambing di peternakan Sobat Ngarit pun tak jauh berbeda dengan ternak lainnya. Pakan utama berupa daun-daunan segar, ditambah ampas untuk menunjang kebutuhan nutrisi, terutama bagi kambing perah agar produksi susu tetap optimal.
Di sela tugas sebagai anggota polisi, Iswanjoni membuktikan bahwa ketekunan dan kecintaan pada dunia peternakan bisa membuka peluang usaha yang menjanjikan.
Dari sekadar coba-coba, kini Sobat Ngarit menjelma menjadi salah satu peternakan kambing yang mulai diperhitungkan di Mojokerto.
Dan di antara deretan kandang yang terus berkembang, kambing Sapera tampil sebagai bintang baru yang tak pernah sepi peminat.

Baca juga: Bukan Juara Utama, Tapi Prestasi Christopher Kevin Yuwono Bikin Namanya Makin Bersinar

Editor : Redaksi



Berita Terkait