Rasulullah Memilih Jalan yang Berat untuk Kita

Rasulullah Memilih Jalan yang Berat untuk Kita © mili.id

Gus Bahar

Oleh: Gus Bahar (Pesantren Salafiyah Seblak)   -  

Di etalase zaman modern ini, kita kerap menyaksikan pemandangan yang ganjil sekaligus memilukan: agama dan kebenaran acapkali dipajang layaknya barang dagangan di pasar obral. Nilai-nilai suci yang dulunya begitu agung kini digadaikan, diberi label harga murah, hanya demi menukar segenggam pujian, sejumput popularitas, atau remah-remah keuntungan duniawi yang sifatnya fana. Kita hidup di bawah kilauan lampu neon yang menipu, di mana kepalsuan bersolek begitu rapi hingga kita yang berjalan di dalamnya sering kali merasa lelah, dahaga, dan kebingungan mencari mata air pegangan hidup yang benar-benar jujur.

Baca juga: Menolak Waras di Tengah "Kekayaan yang Salah Eja"

Bagi mereka yang sudi sejenak menginjak rem dari hiruk-pikuk roda dunia, lalu memilih menyelam ke dalam keheningan—terutama saat jam dinding berdentang menunjuk angka dua dini hari—mereka akan menangkap sebuah getaran yang tidak biasa. Di sepertiga malam yang luruh, ketika riuh manusia telah padam dan digantikan oleh kesunyian yang magis, alam semesta seolah sedang menggelar sajadah batin. Di titik kulminasi kegelapan itulah, angin malam seakan berbisik lembut, menyingkap sebuah rahasia kosmis yang teramat raksasa: rahasia tentang samudra cinta kasih Rasulullah SAW kepada kita, umatnya.

Metafora Thoha dan Yasin: Ketika Langit Menyentuh Bumi

Kita tentu karib dengan bait-bait sholawat yang mengalun syahdu di surau-surau desa maupun masjid kota: “Sholatullah salamullah ‘ala Thoha Rasulillah… ‘ala Yasin Habibillah.” Namun, acapkali kita melantunkannya seperti burung beo—hafal bunyinya, tetapi buta akan maknanya. Di balik nama "Thoha" dan "Yasin", sebenarnya tersimpan sandi spiritual untuk memahami bagaimana sejatinya kebenaran langit diturunkan ke bumi.

Jika kita mengibaratkan kebenaran Tuhan sebagai petir yang memiliki daya kejut jutaan volt, maka mustahil kabel-kabel kemanusiaan kita mampu menerimanya secara langsung tanpa hangus terbakar. Di sinilah peran Thoha. Nama ini adalah lambang dari "transformator" ilahi, di mana keutuhan ilmu Allah yang mahatinggi itu diturunkan ego-Nya, dianyam menjadi kenyataan yang membumi.

Lewat diri Rasulullah SAW, agama tidak dibiarkan mengawang-awang menjadi teori teologis yang rumit, atau teks-teks kering yang mati di atas lembaran kertas kuno. Ilmu itu mengalir, mencair, lalu menyatu ke dalam urat nadi kehidupan: menjelma menjadi lisan yang santun, tatapan mata yang teduh, serta perilaku sehari-hari yang penuh respek. Rasulullah adalah bukti hidup bahwa kebenaran tertinggi di alam semesta ini tidak berwujud pedang yang menghujam, melainkan berwujud kasih sayang, keadilan yang presisi, dan kelembutan kepada sesama.

Sementara itu, Yasin adalah lambang dari cetak biru atau jantung dari kebenaran itu sendiri. Menggunakan analogi mata air, Yasin adalah hulu murni yang airnya memancar langsung dari singgasana Allah. Karena ia bersumber dari Yang Maha Abadi, sifatnya pun absolut—tidak bisa dioplos, tidak bisa ditawar oleh kepentingan politik praktis, dan tidak bisa tunduk pada selera tren zaman yang berubah sekedipan mata.

Ketika Thoha (metode yang membumi) dan Yasin (prinsip yang murni) ini menyatu dalam wujud sang Nabi, dunia seketika mendapatkan sebuah lentera yang teramat terang. Namun, kita tahu hukum alamnya: membawa obor yang menyala di tengah badai moralitas manusia yang sedang rusak parah bukanlah perkara mudah. Ada harga sangat mahal yang harus dibayar, dan Rasulullah memilih menebusnya dengan seluruh sisa napas beliau.

Punggung yang Memikul Badai, Kaki yang Menahan Beban

Membimbing manusia yang keras kepala, memeluk mereka yang melempar batu, serta menahan hantaman cacian, fitnah, dan penolakan sistemik adalah beban yang teramat menyiksa. Al-Quran bahkan menggunakan sebuah metafora yang sangat menyayat hati untuk menggambarkan beratnya misi ini: beban dakwah itu digambarkan sampai “memberatkan punggung” Rasulullah. Jika dianalogikan, punggung suci beliau memikul beban spiritual yang setara dengan beratnya memikul sebuah gunung sendirian.

Mengapa beliau kuat bertahan dan tidak memilih mundur saja? Jawabannya melampaui nalar egois manusia: karena beliau sangat, amat mencintai kita. Beliau melihat masa depan kita dengan kacamata batinnya. Beliau tidak rela jika kelak anak-cucunya di akhir zaman terlempar ke dalam jurang penderitaan abadi.

Baca juga: Tradisi Kita Terlalu Berharga untuk Dibuang

Manifestasi cinta yang paling mengharukan ini mewujud dalam regulasi langit terkait ibadah malam. Dalam bentang hukum Islam (fiqih), kita menemukan sebuah romantisme spiritual yang luar biasa. Bangkit di sepertiga malam untuk melaksanakan Shalat Tahajjud dihukumkan wajib khusus bagi diri Rasulullah SAW. Sementara bagi kita, umatnya, hukumnya "didiskon" menjadi sekadar sunnah atau anjuran.

Bayangkan sebuah kafilah yang harus melewati gurun pasir yang teramat terjal dan dingin di malam hari. Agar kafilah itu selamat, harus ada satu orang yang memikul ransel perbekalan paling berat, memegang obor paling depan, dan berjaga sepanjang malam tanpa tidur agar anggota kafilah yang lain bisa beristirahat dengan tenang.

Itulah yang dilakukan Rasulullah. Jika Allah tidak mengkhususkan kewajiban shalat malam ini kepada pundak nabi-Nya, maka manusialah—kita yang rapuh ini—yang harus menanggung beban rohani yang luar biasa berat itu untuk membersihkan jiwa. Namun, karena rasa sayangnya yang meluap-luap, Rasulullah mengajukan diri ke hadirat Allah untuk mengambil porsi yang paling berat.

Beliau rela berdiri berjam-jam di atas hamparan sajadah di kegelapan malam, menyepi dari dunia, hingga kaki sucinya membengkak dan dadanya bergemuruh bagai air mendidih karena menangis. Beliau mengetuk pintu langit saat semua orang terlelap, mengemis keselamatan, keselamatan, dan keselamatan untuk umatnya. Beliau memikul bagian yang wajib, agar kita yang lemah ini mendapatkan dispensasi berupa keringanan.

Menjemput Hadiah Cinta di Jam Dua Malam

Hari ini, di tengah kepungan zaman digital yang serba instan, meneladani Rasulullah (ittiba’) sering kali direduksi hanya sebatas perdebatan simbolik atau menghafal teks-teks teori yang rumit. Padahal, meneladani beliau secara substantif adalah tentang keberanian meniru esensi sifatnya: berani mengambil jalan hidup yang jujur meski sepi peminat, dengan tegas menolak menjual murah agama demi urusan perut dan takhta, serta belajar melayani sesama manusia dengan ketulusan yang tanpa batas.

Baca juga: Mengembalikan Perkara kepada Ahli Ilmu, Bukan Sekadar Lipstik Genit

Ketika kita—di tengah rasa lelah mengarungi kehidupan—mampu memaksakan diri untuk tersentak bangun di jam dua malam, lalu bersujud di atas sajadah yang sunyi, kita sebenarnya sedang melangkah masuk ke dalam ruang sakral. Di saat kita meneteskan air mata di keheningan malam karena takjub akan kebesaran Allah dan merasa kecil di hadapan-Nya, ketahuilah bahwa air mata itu bukanlah air mata biasa.

Air mata di sepertiga malam itu adalah "hadiah cinta" yang diwariskan oleh Rasulullah SAW berabad-abad yang lalu. Sisa-sisa doa malam beliau yang bergemuruh dahulu, hari ini menjelma menjadi hidayah yang mengetuk pintu hati kita.

Melalui ritual malam itulah, jiwa kita diisi ulang. Energi spiritual yang kita reguk dari keheningan malam akan bertransformasi menjadi kekuatan konkret di siang hari. Ia akan membentuk kita menjadi pribadi yang tangguh, tidak mudah goyah oleh badai ujian, tegar menghadapi ketidakpastian zaman, dan yang paling penting: mampu memancarkan kedamaian serta kemanfaatan bagi manusia-manusia di sekitar kita saat matahari telah terbit.

Jalan yang dipilih Rasulullah memang berat, namun beliau sengaja meretas jalan setapak itu agar kita yang berjalan dibelakangnya tidak lagi tersesat di kegelapan. Kini, pilihannya kembali kepada kita: maukah kita terbangun dan menjemput hadiah cinta itu?

 

Editor : Erwin Muhammad



Berita Terkait
© mili.id

Menolak Waras di Tengah "Kekayaan yang Salah Eja"

© mili.id

Tradisi Kita Terlalu Berharga untuk Dibuang