Dekan FKG Unair, Prof. Dr. Muhammad Luthfi (Foto: Wendy/mili.id)
Surabaya - Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya mewacanakan program less sugar di kantin sekolah, sebagai langkah menekan angka karies gigi.
Hal itu diungkap Dekan Fakultas Kedokteran Gigi (FKG) Universitas Airlangga (Unair), Prof. Dr. Muhammad Luthfi. Menurutnya, hampir seluruh anak saat ini mengalami karies.
Baca juga: Sheraton Surabaya Hadirkan School Holiday Edukatif Bersama Gramedia untuk Keluarga
"Karies gigi untuk anak sekolah hampir seluruhnya mengalami. Salah satu penyebabnya tidak mencapainya edukasi. Di Surabaya prevalensinya masih cukup tinggi," jelas Luthfi ditemui di Universitas Ciputra (UC), Kamis (7/3/2024).
Oleh sebab itu, melalui program less sugar di kantin sekolah, diharapkan mampu menekan angka karies gigi pada anak.
"Kami sudah Teken MoE dengan Pemkot Surabaya untuk menekan less sugar tidak boleh menjual makanan manis di kantin sekolah," tambahnya.
Tak hanya bagi anak sekolah saja, pihaknya juga berencana melakukan edukasi sejak dini kepada ibu hamil yang berada di tingkat RT/RW di Surabaya.
Baca juga: FK UWKS Perkuat Pengendalian Tuberkulosis Melalui Edukasi Nutrisi Berbasis Komunitas di Sumenep
"Di seluruh Surabaya, di RT/RW memberikan edukasi, baik anak anak atau ibu hamil. Ini mekanisme yang bisa mencegah karies. Gigi memang di mulut saja tapi di sana punya jaringan yang komplek memengaruhi organ tubuh," jelasnya.
Sementara Dekan FKG UC Surabaya, Prof. Dr. Ida Bagus Narmada menyebut bahwa karies pada gigi dapat menyebabkan tumbuhnya gigi permanen saling berdekatan bahkan tumpang tindih.
"Itu mengganggu pertumbuhan rahang dan gigi. Kalau gigi sulung banyak terganggu maka pertumbuhannya juga akan terganggu, gigi bisa berdekatan tumbuhnya," imbuhnya.
Baca juga: Penangkapan 24 Demonstran, LBH Soroti Hak Hukum
Parahnya lagi, karies dapat menjadi penyakit vokal yang dapat menjalar ke otak dan jantung.
"Gigi karies sebagai vokal infeksi, atau sumber infeksi bagi penyakit yang lain, bisa ke jantung otak dan lain-lain," tambahnya.
Untuk diketahui, kebutuhan dokter gigi di Indonesia dinilai masih jauh dari kata ideal. Oleh sebab itu, pemerintah saat ini sedang berupaya menginisiasi fakultas baru di dunia perkuliahan.
Editor : Narendra Bakrie
