Armuji saat mengunjungi perajin tempe
Mili.id - Harga kedelai terus naik karena permintaan global yang juga tinggi.
Salah satunya dipicu oleh aksi borong China terhadap kedelai impor dari negara-negara pemasok utama seperti AS. Merujuk pada situs tradingeconomics, harga kedelai berfluktuasi di rentang US$ 15 per bushel (sekitar 27,21 kg) setelah sempat menyentuh level tertinggi sejak Mei 2021 di kisaran US$ 16 per bushel.
Baca juga: BHS dan Armuji Sidak Aktivitas PT Suka Jadi Logam yang Dinilai Merugikan Masyarakat
Akibatnya pengrajin tahu dan tempe harus menebus kedelai dengan harga lebih mahal. Di waktu normal berada di harga Rp 6.000-7.000/Kg, kini mencapai lebih dari Rp 11.000/Kg.
Wakil Walikota Armuji mengunjungi sejumlah titik Perajin Tempe yang ada di Kelurahan Kebonsari dan Perajin Tahu di Kelurahan Pagesangan kecamatan Jambangan.
"Para perajin tempe sementara berhenti produksi karena untuk membeli kedelai terlalu tinggi , sedangkan perajin tahu menurun angka produksinya," ungkap Armuji
Baca juga: 16 Inovasi Tepat Guna Karya Mahasiswa KKN UMSurabaya Dapat Hak Kekayaan Intelektual
Terkait temuan itu, ia akan segera berkoordinasi dengan sejumlah stakeholder merumuskan jalan keluar terhadap permasalahan Produksi Tahu dan Tempe yang berbahan baku kedelai.
"Tadi juga untuk menjaga harga stabil, ada beberapa ukurannya diperkecil," kata Cak Ji
Baca juga: Armuji : Permintaan Maaf Diterima, Proses Hukum Terus Berjalan
Dirinya juga mendorong Pemerintah Pusat melalui Kementerian Perdagangan agar segera menetapkan Harga Eceran Tertinggi dan mengambil langkah konkret untuk mengendalikan harga kedelai yang meroket dan membawa dampak luas.
"Semoga harga - harga bahan pokok mampu dikendalikan mendekati bulan puasa," imbuhnya
Editor : Redaksi
