Imbas Atap Bangunan Ambruk, Siswa SD Negeri Sempu Banyuwangi Berbagi Ruang Kelas

Imbas Atap Bangunan Ambruk, Siswa SD Negeri Sempu Banyuwangi Berbagi Ruang Kelas © mili.id

Suasana belajar mengajar kelas 2 dan 3 SD Negeri 2 Temuasri yang disekat papan triplek. Foto: Eko Purwanto.

Mili.id - Murid SD Negeri 02 Temuasri, Kecamatan Sempu, terpaksa mengikuti proses kegiatan belajar mengajar (KBM) di ruang kelas bersekat.

Murid itu terdiri dari 14 siswa kelas 2 dan 16 siswa dari kelas 3 yang belajar menggunakan ruang kelas enam.

Baca juga: Dinas PU Bina Marga Jatim Pastikan Progress Penggantian Jembatan Sentong Sesuai Target

Kondisi itu tak lepas dari alih guna ruang kelas 6 yang dipakai untuk ruang kepala sekolah dan dewan guru.

Karena gedung yang menampung 9 tenaga pengajar dan 1 tenaga bantu itu atapnya ambruk.

Kepala Sekolah SD Negeri 2 Temuasri Mispan menyatakan, ambruknya ruang kepala sekolah dan dewan guru terjadi pada 04 Juli 2024. Atap gedung 9 × 7 meter tersebut tak kuat menahan beban air hujan.

Beruntung ambruknya atap tak sampai mengenai guru maupun siswa. Saat peristiwa itu terjadi kegiatan belajar mengajar tengah memasuki masa libur semester.

"Saat itu kebetulan sedang libur semester. Jadi tidak sampai ada korban jiwa," ujarnya, Jumat (18/10/2024).

Setelah ambruk, praktis ruang kepala sekolah tak bisa digunakan kembali, sehingga Mispan bersama guru kemudian mengungsikan peralatan dan juga ruang kerja ke ruang kelas enam.

Pergeseran ruang ini kemudian mengubah tata ruang yang diperuntukkan untuk siswa. Mispan menyatakan, sisa kelas enam kemudian digeser ke ruang kelas dua dan tiga.

"Untuk siswa kelas dua dan tiga kita alihkan ke ruang perpustakaan. Karena daya tampung ruang kecil maka kita lakukan penyekatan agar cukup," tambahnya.

Meski cukup, akan tetapi pembelajaran yang diberikan guru kelas dan guru mata pelajaran tak sebegitu maksimal.

Baca juga: Tradisi Ithuk-Ithukan Banyuwangi Tetap Lestari, Wujud Syukur Warga Osing atas Sumber Kehidupan

Karena terjadi benturan suara antar guru ketika materi disampaikan di jam pelajaran berlangsung karena sekarang yang digunakan hanya terbuat dari triplek.

Mispan tak bisa berbuat banyak, dirinya lebih baik mengorbankan kurang maksimalnya materi ketimbang harus membagi jam mata pelajaran siswa.

"Pernah diwacanakan untuk membagi jam pelajaran. Tapi kasihan pada siswa nanti bisa pulang sore," katanya.

Terpikir Mispan untuk menggunakan sarana balai dusun di Desa Temuasri, karena ketiadaan balai dusun, niat itu kemudian diurungkan.

Niat itu muncul karena hingga satu bulan lebih ruang kepala sekolah dan guru yang ambruk tak kunjung diperbaiki.

Baca juga: Jangan Salah Lapor! Ini Cara Bedakan Jalan Nasional, Provinsi, dan Kota di Depok

Padahal, Mispan sudah mengajukan proposal pembenahan ke Dinas Pendidikan Banyuwangi namun belum juga ada tindak lanjut.

Mispan menambahkan, jika realisasi pembenahan gedung yang ambruk itu sempat menemui titik terang. Saat Dinas Pekerjaan Umum Cipta Karya Perumahan dan Permukiman (DPU CKPP) mengirimkan tim untuk melakukan tinjauan.

"Sudah ada tim dari dinas PU yang datang ke sini untuk meninjau. Tapi hingga sekarang belum ada tindak lanjut kembali," terangnya.

Mispan khawatir jika tak segera dilakukan perbaikan, ruang UKS yang satu paket dengan ruang kepala sekolah dan guru bakal ikutan ambruk. Karena sudah tidak ada tiang penyangga dan kondisi atap sudah lapuk.

"Khawatir itu (ruang UKS) bakal ikut ambruk. Apalagi habis ini musim penghujan bisa-bisa atap ruangan tersebut tak kuat menahan beban air," tandasnya.

Editor : Aris S



Berita Terkait