personil militer AS
Mili.id - Operasi militer Amerika Serikat dalam perang melawan Iran mulai memunculkan persoalan baru bagi Washington. Tak hanya soal biaya, penggunaan besar-besaran amunisi presisi kini memicu kekhawatiran terhadap menipisnya stok rudal strategis yang menjadi tulang punggung kekuatan militer AS.
Berdasarkan analisis Center for Strategic and International Studies (CSIS), selama 39 hari operasi “Epic Fury” sebelum gencatan senjata diberlakukan, militer AS telah menghabiskan ribuan amunisi presisi, termasuk sejumlah senjata mahal yang produksinya memakan waktu bertahun-tahun.
Baca juga: Iran Pertahankan Penutupan Selat Hormuz, Kaitkan dengan Situasi Lebanon dan Ekspor Minyak
CSIS mencatat, lebih dari 1.000 rudal Tomahawk telah digunakan dari total stok awal sekitar 3.100 unit. Selain itu, lebih dari 1.100 rudal JASSM juga telah ditembakkan dari cadangan sekitar 4.400 unit.
Tekanan lebih besar terlihat pada sistem pertahanan udara. Penggunaan rudal Patriot diperkirakan mencapai 1.060 hingga 1.430 unit dari stok awal sekitar 2.330 unit. Sementara itu, sistem THAAD telah digunakan hingga 290 unit dari total sekitar 360 unit yang tersedia.
Penggunaan juga terjadi pada rudal pencegat balistik seperti SM-3 dan SM-6, yang masing-masing telah terpakai ratusan unit dari stok awal. Kondisi ini memperlihatkan tingginya intensitas penggunaan amunisi dalam konflik modern.
Masalahnya, pengisian ulang stok tidak bisa dilakukan dalam waktu singkat. CSIS menyebut proses produksi dan pengiriman sejumlah rudal utama membutuhkan waktu panjang, mulai dari lebih dari tiga tahun hingga lebih dari lima tahun untuk kembali ke kapasitas semula.
Baca juga: Ketegangan AS-Iran Memanas, Saling Serang Picu Kekhawatiran Konflik Meluas
Situasi ini kemudian memunculkan kekhawatiran yang lebih luas, terutama terkait kesiapan AS menghadapi potensi konflik di kawasan Pasifik, khususnya di Taiwan. Laporan The Wall Street Journal menyebut sejumlah pejabat AS menilai perang Iran telah menguras amunisi secara signifikan, sehingga dapat memengaruhi kemampuan Washington dalam menjalankan rencana kontingensi jika terjadi konflik dengan China.
Meski demikian, pemerintah AS membantah bahwa kesiapan militernya terganggu. Gedung Putih dan Pentagon menegaskan bahwa militer tetap memiliki kemampuan penuh untuk menjalankan operasi sesuai arahan presiden.
Namun, para analis menilai kekhawatiran tersebut tidak bisa diabaikan. China memiliki kapasitas militer jauh lebih besar dibanding Iran, termasuk kekuatan rudal balistik, armada laut besar, serta sistem pertahanan yang dapat membatasi pergerakan militer AS.
Baca juga: AS dan Iran Dikabarkan Capai Kesepakatan Awal soal Selat Hormuz dan Uranium
CSIS juga mengingatkan bahwa konflik dengan kekuatan besar seperti China berpotensi menguras amunisi dengan kecepatan yang jauh lebih tinggi. Bahkan sebelum perang Iran, stok rudal AS dinilai belum sepenuhnya memadai untuk menghadapi skenario perang skala besar.
Kondisi ini menjadi peringatan bagi Washington bahwa dalam perang modern, konsumsi amunisi dapat melampaui kemampuan industri pertahanan untuk memproduksi ulang—menjadikan logistik senjata sebagai faktor krusial dalam menentukan kekuatan militer global.
Editor : Redaksi
