SBY menghadiri acara silaturahmi dengan ulama dan tokoh masyarakat lumajang di Pondok Pesantren Roudlotul Ma'rifat pimpinan KH Ahmad Umar Faruq. (foto: Tim Humas Demokrat Jatim for mili.id).
Lumajang - Presiden RI ke-6 Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) berharap para alim dan ulama serta tokoh agama untuk menempatkan dirinya secara pas dan tidak berlebihan, terutama di tahun politik sekarang.
Baca juga: “Kupilih Jalur Langit” Resmi Rilis, Kisahnya Bikin Penonton Campur Aduk
"Ulama dan tokoh agama haruslah berada di tempat dan posisi yang pas ketika berpolitik agar tidak membingungkan umat," tegas SBY saat menghadiri acara silaturahmi SBY dengan ulama dan tokoh masyarakat Lumajang di Pondok Pesantren Roudlotul Ma'rifat pimpinan KH Ahmad Umar Faruq dalam keterangannya, Senin (29/1/2024).
Pernyataan SBY ini menjawab pertanyaan salah satu tokoh agama yang juga ulama Lumajang Sofi Abdullah yang mengaku prihatin dengan perpecahan antar tokoh agama ditahun politik saat ini.
"Kenapa pada saat Bapak SBY jadi Presiden para ulama, Habaib dan Kyai bersatu padu. Akan tetapi kenapa akhir-akhir ini para ulama, para Habaib dan kiai terpecah belah," tanya Kiai Sofi.
Menurut SBY, seorang Habaib, ulama, sebagai pemimpin umat, pemimpin ponpes adalah warga negara yang punya hak politik namun harus saling menghargai.
"Seperti dalam pemilu saat ini para ulama punya hak politik yang bisa memilih, bisa dipilih ataupun peran yang lain sebagai warga negara Indonesia. Namun menurut saya tidak harus beda pandangan, tidak harus berselisih, apalagi berjarak. Kasihan ummat," jelas SBY.
Ia pun berharap kepada para Ulama, Habaib, tokoh agama yang ada di Indonesia bisa tetap merajut kebersamaan untuk Indonesia yang damai.
"Dari Ponpes Roudlatul Ma'rifat Lumajang saya berharap (ulama dan para tokoh agama) tetap bisa dirajut kedekatan kebersamaan, persahabatan, sebagai sesama pemimpin umat," ungkapnya.
Tak cukup itu, SBY juga meminta agar para tokoh umat ini bisa memisahkan mana kewajiban sebagai warga negara, untuk menyukseskan pemilihan umum, untuk berada di dunia politik, dan mana peran para ulama sebagai pemimpin umat.
Baca juga: Gunung Semeru Erupsi Lagi, 16 Gempa Letusan Tercatat dalam 6 Jam
"Menurut saya bisa, asalkan pas, tidak melebihi batas ketika berpolitik menjalankan amanahnya sebagai warga negara," katanya.
SBY juga mengingatkan bahwa Pemilu hanya satu kali dalam lima tahun.
"Itupun hanya 3 bulan. Selebihnya 4 tahun lebih jalankan tugas sebagai warga negara atau sebagai aparat," tambahnya.
SBY melanjutkan bahwa Indonesia adalah negara majemu. Oleh karenanya, ia selalu menjaga hubungan baik dengan tokoh-tokoh agama manapun.
"Alhamdulillah hubungan kami selalu baik dan saling menghormati, sampai saat ini," ujarnya.
Baca juga: Hadapi Lonjakan Permintaan, Pemkab Lumajang Jamin Ketersediaan LPG
Selain pertanyaan dari para ulama dan tokoh agama, dalam acara yang dikemas dengan tanya jawab, SBY juga mendapatkan pertanyaan dari sejumlah perwakilan masyarakat yaitu dari para UMKM, petani dan sejumlah purnawirawan TNI.
Masalah pupuk, kemudahan mendapatkan modal dan pendidikan murah bagi anak purnawirawan menjadi pesan untuk diperjuangkan.
"Saya berpesan kepada yang akan menjadi presiden nanti, utamakan dulu kesejahteraan rakyat, baru yang lainnya, agar daya beli masyarakat baik, ekonomi jalan," tegas SBY.
Sementara itu, KH Ahmad Umar Faruq dalam sambutannya mengaku bahagia pondoknya di datangi oleh SBY.
"Kami bangga dan mendoakan semoga Pak SBY Bapak kita ini selalu diberi kesehatan oleh Allah Subhanahu Wa Ta'ala," ujar kiai yang akrab disapa Gus Mamat itu.
Editor : Aris S
