Kursi bambu yang digunakan untuk membaringkan korban (Foto: Eko Purwanto/mili.id)
Banyuwangi - Seorang warga membeberkan rentetan peristiwa yang terjadi sebelum santri yang mengukuti ujian kenaikan pangkat pencak silat di Banyuwangi tewas.
Warga yang bercerita itu benama Agus Susanto (28), anak dari pemilik lahan, yang dipakai untuk latihan pencak silat tersebut. Lahan itu terletak di Dusun Krajan 2, Desa/Kecamatan Tegalsari, Kabupaten Banyuwangi.
Baca juga: Ketahanan Pangan dari Pekarangan Bhabinkamtibmas Ajak Warga Lidah Wetan Budidaya Singkong
Sementara korban bernisial AR (14), asal Jakarta, yang menjadi santri Ponpes Mambaul Huda Dusun Krasak, Desa/Kecamatan Tegalsari.
Menurut Agus, ujian kenaikan pangkat pencak silat itu dilaksanakan pada Minggu (22/9/2024). Ketika itu, ia mendapati denyut jantung korban masih terasa, meskipun lemah.
"Detak jantung korban masih terasa ketika saya pegang dada korban. Dan denyut jantungnya terasa saat memegang tangan korban, meskipun kondisinya sudah terlihat lemah sekali," ungkap Agus kepada mili.id, Senin (23/9/2024).
Korban kemudian dibaringkan di atas meja bambu setelah dievakuasi rekan-rekannya dari tempat berlatih. Suasana panik menyelimuti mereka, ketika korban tidak sadarkan diri.
Korban kemudian diberikan pertolongan pertama dengan menyemprotkan cairan oksigen ke mulutnya. Namun tidak ada respon dari korban.
"Oksigennya tak dihirup oleh korban. Makanya saya bersama adik kemudian langsung membopong korban ke puskesmas naik motor," papar Agus.
Agus menyebut, dari informasi pihak puskesmas yang ia terima, kondisi pupil mata korban sudah melebar. Kondisi tersebut telah menunjukkan tanda-tanda kematian.
"Kata petugas puskesmas pupil matanya sudah lebar. Lalu saya sampaikan denyut nadinya masih ada akan tetapi menurut dia (petugas) kondisinya sudah lemah. Kondisi tersebut menunjukkan tanda-tanda kematian," jelasnya.
Baca juga: BKP Desa di Kedungadem Resmi Dikukuhkan, Polres Bojonegoro Perkuat Sinergi Jaga Kamtibmas
Tak berlangsung lama, korban dinyatakan meninggal dunia. Korban selanjutnya dibawa ke RSUD Blambangan untuk pemeriksaan lebih lanjut.
Agus mengaku melihat luka pada bagian dada korban. Luka tersebut tak terlalu besar, tapi terlihat gosong.
"Gak sebegitu besar (luka) yang saya lihat," tambahnya.
Sebelum petaka terjadi, lahan milik ayah Agus, dua tahun belakangan kerap dijadikan lokasi latihan para pesilat muda di wilayah Tegalsari. Baik dari lingkungan pesantren maupun kalangan luar.
Mereka pun telah meminta izin untuk penggunaan lahan sebagai tempat berlatih. Agus menyebut, latihan tersebut digelar setiap satu hari dalam seminggu.
"Biasanya kalau latihan tiap hari Jumat. Sudah dua tahun ini dipakai latihan," terang dia.
Kendati begitu, pihak keluarga menerima kematian korban sebagai musibah dan menolak proses autopsi. Mereka juga tidak menuntut pihak pelatih maupun perguruan pencak silat tempat korban berlatih.
"Keluarga tidak ingin ada proses hukum lebih lanjut," ujar Kapolsek Tegalsari, Iptu Achmad Rudi.
Pihaknya melimpahkan kasus tersebut ke Unit PPA Satreskrim Polresta Banyuwangi. Penyelidikan lebih lanjut dilakukan untuk memahami penyebab pasti kematian korban.
"Kasus tersebut telah diserahkan ke Unit Pelayanan Perempuan dan Anak (PPA) Polresta Banyuwangi untuk penyelidikan lebih lanjut," pungkasnya.
Editor : Narendra Bakrie
