Masjid Sultan Omar Ali Saifuddien Brunei (Foto-foto: Wafda Al Mashri for mili.id)
Brunei, mili.id - Aku dan ayah balik ke Pekanbaru, tempat tinggalku, untuk menghabiskan beberapa hari pada awal puasa bulan Maret 2024 lalu.
Namun karena pekerjaannya sebagai seorang expatriat, setelah hanya menghabiskan seminggu di Pekanbaru, ayah harus kembali ke Brunei Darussalam.
Baca juga: Cukup 6 Bulan-Budidaya Jamur Tiram Raup Cuan, Mau Coba?
"Ayah, ayah nanti balik lagi ga pas mau lebaran?" kata-kata itulah yang terdengar dari mulut adikku, Iyash, saat ayah kami hendak balik ke Brunei Darussalam.
Selama beberapa tahun ke belakang, ayah memang tidak tinggal serumah dengan aku, ibu, dan adik-adikku, karena tempat kerjanya tidak menyediakan family status, beda dengan saat ayah bekerja di Qatar dulu.
"Nanti ayah coba lihat dulu ya nak," jawab ayah.
Tanpa kami ketahui, ayah telah memesankan tiket untuk kami berangkat ke Brunei pada hari ketiga lebaran, menghabiskan sekitar 9 hari di sana.
Aku sangat tidak sabar untuk merayakan hari kemenangan itu bersama, tanpa terpisah oleh jarak.
Hari yang ditunggu-tunggu telah tiba. Aku, ibu, dan adik-adikku menuju bandara pada dini hari, lebih tepatnya pada jam 6 pagi, karena mengejar keberangkatan pada jam 8.
Suara burung-burung berkicau masih terdengar, dan jalanan terlihat sangat lengang, seakan kami berada di kota tersepi di Indonesia.
Suasana Bandara Sultan Syarif Qasim 2 di Pagi Hari
Belum banyak orang yang terlihat menjalankan aktivitas. Mungkin mereka masih kelelahan, setelah silaturahmi ke rumah sanak saudara pada dua hari ke belakang.
Karena tidak ada penerbangan langsung dari Pekanbaru ke Brunei, kami diharuskan transit di Kuala Lumpur, Malaysia terlebih dahulu.
Karena kami sampai jam 9 pagi di Kuala Lumpur dan penerbangan menuju Brunei jam 15:00 waktu setempat, kami memiliki kesempatan untuk menelusuri banyak tempat makan yang menyediakan menu khas Malaysia di Kuala Lumpur International Airport (KLIA).
Selain makanan, kami juga melihat barang-barang yang tidak terdistribusikan di Indonesia yang tersedia di duty free KLIA. Waktu layover yang dihabiskan tanpa rasa bosan sedikit pun.
Setibanya di Brunei International Airport, kami dijemput oleh ayah dan diajak makan ke tempat ayam goreng terenak di dunia… JOLLIBEE!
Setelah makan, kami langsung balik ke rumah ayah untuk istirahat setelah perjalanan panjang.
Suatu hal yang saya notice selama perjalanan ke rumah ayah adalah jalanan Brunei yang sangat sepi, walaupun masih berada dalam suasana hari raya.
Beda jauh dengan Indonesia, yang padat penduduk dan suasana lebarannya sangat terasa selama bulan Syawal.
Ayah sempat mengajak kami untuk beraya di rumah rekan kerjanya, yang merupakan orang Brunei.
Lebaran di Brunei menawarkan suasana yang lebih tenang dan penuh keharmonisan, yang mengutamakan kebersamaan dalam keluarga kecil dan komunitas terdekat.
Ayah dan Ibu Menyusuri Brunei di Malam Hari
Tradisi saling mengunjungi dan berbagi kebaikan sangat kental di Brunei, menciptakan nuansa yang lebih sederhana namun sangat berarti.
Berbeda dengan di Indonesia, di mana lebaran dirayakan dengan kemeriahan yang lebih besar, termasuk tradisi mudik yang membawa keluarga besar berkumpul dari berbagai penjuru.
Baca juga: Melihat Budidaya Lebah Tanpa Sengat di Hutan Pinus Karacak
Meski keduanya dipenuhi rasa syukur, perayaan di Brunei terasa lebih intim. Sementara di Indonesia, lebaran dipenuhi dengan keramaian dan berbagai aktivitas sosial yang melibatkan banyak orang.
Pada hari selanjutnya, setelah melewati hiruk pikuk lebaran, ayah mengajak kami untuk mencoba restoran langganannya, KK Koya.
Paratha dan Chainya juara banget! (specialty mereka memang merupakan kuliner-kuliner khas India) Restoran KK Koya yang terletak di Telisai ini lebih dari sekadar tempat makan. Namun menjadi pengalaman kuliner yang membawaku merasakan atmosfer asli India.
KK Koya dikenal dengan cita rasanya yang mendalam dan pilihan menu yang luas, restoran India ini menyajikan berbagai hidangan lezat yang memadukan tradisi dan inovasi. Tidak heran jika tempatnya selalu ramai dengan pengunjung.
Setelah kenyang makan di KK Koya, kami siap-siap untuk mengunjungi Masjid Omar Ali Saifuddien.
Masjid Sultan Omar Ali Saifuddien di Brunei adalah salah satu landmark paling ikonik di Brunei. Terletak di jantung Bandar Seri Begawan, masjid megah ini berdiri dengan kubah emas yang mencolok, dikelilingi oleh taman yang indah dan danau buatan.
Arsitekturnya memadukan gaya Islam klasik dengan sentuhan modern, menciptakan pemandangan yang menakjubkan, terutama saat matahari terbenam.
Walaupun saya sudah mengunjungi masjid ini berkali-kali selama waktu saya di Brunei, saya tetap terpukau dengan suasana di sekitar masjid yang sangat tenang dan damai, menawarkan kesempatan sempurna untuk refleksi.
Masjid ini bukan hanya tempat ibadah, tetapi juga simbol keagungan dan ketenangan spiritual yang memikat hati setiap pengunjung yang datang.
Selama waktu kami di sana, ayah membawa kami ke banyak tempat-tempat lainnya. Yang paling saya ingat adalah kunjungan kami ke Pantai Tutong.
Pantai Tutong
Baca juga: Tim PPK Ormawa FMSC 2025 Bawa Inovasi Leuweung Mukti ke Panggung Internasional
Biasanya yang kita temukan di pantai adalah orang-orang berenang di lautan, sunbathing, dan anak-anak yang berlarian di sepanjang pesisir pantai.
Pantai Tutong memiliki cerita yang berbeda. Orang-orang yang berkunjung ke sini hanya melihat pemandangan dari dalam mobil atau berdiri dengan jarak yang lumayan jauh. Rupanya, hal-hal tersebut dilakukan agar selamat dari ancaman buaya pantai.
Kami telah menempuh keseluruhan negara Brunei Darussalam dalam waktu yang cukup singkat. 9 hari belum habis dan kami mengetahui seluruh seluk-beluk negara Brunei.
Untuk mencari a change in surroundings, ayah mengajak kami untuk menghabiskan 2 hari dan semalam di Miri, kota kecil di Malaysia yang berbatasan dengan Brunei.
Saat saya mengunjungi Miri, saya langsung terpesona dengan suasananya yang santai dan menenangkan. Kota ini, terletak di utara Sarawak, menawarkan pemandangan alam yang luar biasa, mulai dari pantai yang indah hingga hutan tropis yang hijau dan segar.
Keindahan alamnya begitu memikat, sementara suasana kota yang lebih tenang memberikan rasa nyaman.
Saya menikmati jalan-jalan di pusat kota yang modern, tapi tetap terasa akrab dengan budaya lokal. Dari pasar malam yang hidup hingga kafe-kafe kecil yang menyajikan hidangan lokal, Miri benar-benar menyuguhkan pengalaman yang tak terlupakan bagi siapa pun yang mencari ketenangan dan keindahan alami.
Kami sudah selesai menjelajahi Brunei dan waktu mengunjungi ayah sudah habi. Adik-adikku harus mulai masuk sekolah dan aku harus memulai kuliah.
Saya merasa sedih meninggalkan Brunei, tapi bahagia karena telah mengunjungi ayah di sini.
Penulis: Wafda Al Mashri, Mahasiswa Komunikasi Digital dan Media, Sekolah Vokasi IPB University
Editor : Narendra Bakrie
