Dibantai Thailand 7-0, Kemana Arah Timnas Putri Indonesia?

Dibantai Thailand 7-0, Kemana Arah Timnas Putri Indonesia? © mili.id

Timnas Putri Indonesia (istimewa)

Vietnam, mili.id — Suara peluit panjang di Stadion Lach Tray mengakhiri pertandingan, tapi bukan mengakhiri perjuangan. Justru menjadi penanda betapa banyak pekerjaan rumah yang harus diselesaikan Timnas Putri Indonesia. Kekalahan telak 0-7 dari Thailand di laga perdana Grup A Piala AFF Putri 2025 bukan sekadar kekalahan biasa. Ia menjadi potret telanjang ketimpangan kualitas, kekacauan persiapan, dan minimnya perhatian serius terhadap sepak bola putri di negeri ini.

Sejak menit awal, tekanan bertubi-tubi dari Thailand langsung menghantam lini belakang Garuda Pertiwi. Baru tujuh menit berjalan, Kanjanathat Poomsri membobol gawang Indonesia, membuka kran gol yang seolah tak bisa dihentikan. Empat gol tambahan bersarang di babak pertama. Meski permainan sedikit membaik di paruh kedua, dua gol tambahan dari Thailand mengunci skor menjadi 7-0. Tanpa perlawanan berarti, Indonesia bahkan tak sanggup mencatatkan satu pun tembakan selama 90 menit. Tidak ada sepak pojok. Tidak ada peluang. Bahkan kiper Thailand tak perlu melakukan satu pun tendangan gawang, karena tidak pernah benar-benar terancam.

Baca juga: Garuda Pertiwi U-20 Bangkit dari Ketertinggalan, Tahan Imbang Myanmar 2-2

Statistik mencerminkan betapa jauhnya jurang yang membentang antara kedua tim. Thailand menguasai 68 persen bola, mencatat 29 tembakan, dan memiliki akurasi umpan hingga 85 persen. Sebaliknya, Indonesia hanya 32 persen penguasaan bola, dengan akurasi umpan 63 persen. Di lapangan, dominasi itu terasa mutlak. Hampir sepanjang laga, skuad Garuda Pertiwi lebih banyak bertahan, terkurung, dan kehilangan arah.

Namun yang lebih menyakitkan dari skor adalah kenyataan bahwa Indonesia datang ke turnamen ini dalam kondisi jauh dari ideal. Beberapa hari sebelum laga pertama, pergantian pelatih dilakukan secara mendadak. Satoru Mochizuki digantikan oleh Joko Susilo, yang otomatis harus meracik ulang taktik dengan waktu persiapan yang nyaris tidak ada. Di saat yang sama, sejumlah pemain kunci juga absen. Nama-nama seperti Claudia Scheunemann, Zahra Muzdalifah, Safira Ika Putri, hingga Iris de Rouw dan Sheva Imut tidak dibawa ke Vietnam. Kombinasi antara minimnya persiapan, ketidakhadiran pilar utama, dan kerasnya lawan-lawan di Grup A membuat hasil buruk seperti sudah ditulis sejak awal.

Namun kekalahan ini bukan hanya tanggung jawab para pemain di lapangan. Ini adalah refleksi dari kondisi sepak bola putri Indonesia yang belum kunjung dibenahi secara menyeluruh. Minimnya kompetisi domestik yang kompetitif, belum seriusnya pembinaan usia dini, dan perhatian yang masih setengah hati menjadikan Garuda Pertiwi selalu tertinggal beberapa langkah dari negara tetangga yang lebih konsisten berinvestasi dalam sepak bola wanita.

Laga melawan Vietnam pada 9 Agustus nanti akan menjadi ujian berat berikutnya. Tuan rumah bukan hanya unggul secara teknis dan pengalaman, tapi juga bermain dengan dukungan penuh suporter sendiri. Jika tidak ada perbaikan signifikan dalam tempo singkat, bukan tidak mungkin Indonesia kembali menelan kekalahan besar. Namun harapan itu belum mati. Masih ada waktu untuk menunjukkan semangat bertanding, karakter, dan harga diri sebagai sebuah tim nasional.

Mungkin dari kekalahan ini kita bisa mulai jujur pada diri sendiri, bahwa sudah waktunya menaruh perhatian serius pada sepak bola putri. Bukan hanya saat kalah besar, tapi justru saat membangun dari dasar, dari diam-diam, dari sekarang.

Editor : Erwin Muhammad



Berita Terkait