Doktor Pertama UC Surabaya Bahas Suksesi Perusahaan Keluarga Tionghoa di Indonesia

Doktor Pertama UC Surabaya Bahas Suksesi Perusahaan Keluarga Tionghoa di Indonesia © mili.id

Surabaya, mili.id – Universitas Ciputra (UC) Surabaya mencatatkan sejarah baru dengan meluluskan Dr Teddy, SE, MBA, sebagai Doktor Management & Entrepreneurship dari program studi Ilmu Manajemen yang pertama.

Teddy diyatakan lulus setelah berhasil mempertahankan disertasinya berjudul “Jejak Warisan dan Masa Depan: Konstruksi Perencanaan Suksesi pada Perusahaan Keluarga Tionghoa di Indonesia.” pada sidang terbukanya, Kamis (18/9/2025).

Baca juga: UC Ventures Raih AIBI Award 2025, Cetak Startup Mahasiswa Siap Bersaing di Pasar Nyata

Menurut Teddy, berdasarkan data KADIN (Kamar Dagang Industri Indonesia) saat ini hanya ada 24 juta perusahaan yang berdiri di Indonesia. Dari jumlah ini, ada 90% perusahaan keluarga termasuk UMKM dan sebagian besar dikelola oleh keluarga Tionghoa.

"Saya bandingkan perusahaan keluarga Indonesia di Malaysia dan Singapore ini sangat berbeda. Dulu 10 tahun lalu, Malaysia belum maju. Tapi 2 tahun lalu jauh lebih melesat pertumbuhan entrepreneurshipnya. Saat ini Malaysia lebih maju dari Indonesia," ujar Teddy.

Namun, hanya sedikit yang mampu bertahan melewati generasi kedua dan lebih sedikit lagi yang sukses hingga generasi ketiga.

Sebagai generasi ketiga pemilik perusahaan keluarga sekaligus konsultan dan akademisi, Teddy mendalami dinamika internal keluarga dalam menyiapkan penerus sekaligus menjaga nilai-nilai kekeluargaan.

“Penelitian ini adalah langkah kecil dari upaya besar saya untuk membantu para pemilik perusahaan keluarga di Indonesia dalam mempersiapkan suksesi dengan baik. Harapannya, perusahaan dapat terus berprestasi tanpa mengorbankan keharmonisan keluarga,” ujar Teddy.

Teddy menambahkan, perusahaan keluarga memiliki arti lebih dari sekadar bisnis. Tetapi juga ada nilai-nilai kekeluargaan di dalamnya.

Baca juga: UC Hadirkan Pakar SCAD Amerika Serikat Perkuat Pembelajaran Human-Centered Design Thinking

"Tantangannya adalah bagaimana perusahaan bisa terus berkembang tanpa kehilangan relasi keluarganya. Kalau sampai terjadi konflik, bukan hanya bisnis yang bisa hancur, tapi juga hubungan keluarga yang retak,” jelasnya.

Menurut Teddy, penelitian ini lahir dari kegelisahannya melihat bagaimana banyak perusahaan keluarga berhenti di generasi kedua atau ketiga. Sehingga ia berharap penelitian akan dikembangkan dan dimanfaatkan untuk pengembangan perusahaan keluarga di Indonesia demi menyumbang pembangunan ekonomi bangsa.

“Sering ada ungkapan, generasi pertama membangun, generasi kedua menikmati, dan generasi ketiga menghancurkan. Lewat penelitian ini saya ingin tahu apakah itu mitos atau realitas sosial. Saya berharap model yang saya kembangkan bisa menjadi jawaban praktis agar perusahaan keluarga tetap bisa bertahan lintas generasi,” tandasnya.

Promotor disertasi, Prof. Dr. Burhan Bungin, M.Si., Ph.D., menilai riset ini memberi sumbangsih besar. “Model yang dihasilkan Pak Teddy dapat menginspirasi para pebisnis dalam mempersiapkan suksesi keturunan. Family business adalah salah satu kekuatan ekonomi bangsa,” ujarnya.

Baca juga: UC Surabaya Ajak Mahasiswa Pahami Bisnis Masa Depan Lewat Seminar Web3

Kaprodi S3 Manajemen & Entrepreneurship, Dr. David Kondrat, menambahkan bahwa penelitian Teddy berhasil membongkar mitos generasi ketiga yang kerap disebut sebagai generasi penghancur perusahaan keluarga.

"Dengan metode fenomenologi transendental, Teddy mampu menghadirkan model konseptual yang aplikatif dan menyelesaikan studinya tepat waktu dalam tiga tahun,"pungkasnya.

Sementara itu, Rektor Universitas Ciputra, Prof. Dr. Wirawan Endro Dwi Radianto, M.ScA., C.A., Ak., menyebut disertasi ini relevan dan berdampak besar bagi dunia usaha. Menurutnya, kehadiran Teddy sebagai doktor pertama menjadi tonggak penting perjalanan UC.

“Sidang promosi doktor pertama ini menjadi bersejarah bagi Universitas Ciputra. Kehadiran disertasi Bapak Teddy menegaskan komitmen UC dalam menghadirkan penelitian yang relevan, aplikatif, dan berdampak langsung bagi dunia usaha di Indonesia," ungkap Prof Wirawan.

Editor : Fahrizal Tito



Berita Terkait