Produksi tempe di Lapas Mojokerto.
Mili.id - Di balik tembok tinggi dan pintu besi Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas IIB Mojokerto, aroma kedelai rebus perlahan menguar.
Bukan sekadar aktivitas rutin, melainkan bagian dari upaya menanamkan harapan baru bagi Warga Binaan Pemasyarakatan (WBP).
Baca juga: Razia Gabungan di Lapas Mojokerto, Tak Ditemukan Narkoba dan Ponsel di Kamar Hunian
Melalui produksi tempe, lapas ini ikut ambil bagian dalam mendukung UMKM sekaligus memperkuat ketahanan pangan.
Kegiatan yang berlangsung di area Bimbingan Kerja (Bimker) pada Sabtu (31/1) itu menjadi ruang belajar sekaligus tempat menumbuhkan kemandirian. Para WBP terlibat langsung dalam seluruh proses produksi tempe, mulai dari perendaman kedelai, perebusan, hingga fermentasi.
Semua dilakukan dengan pendampingan petugas dan menerapkan standar kebersihan yang ketat.
Kedelai pilihan digunakan sebagai bahan baku utama. Bagi Lapas Mojokerto, kualitas adalah hal yang tak bisa ditawar. Tempe yang dihasilkan tak hanya layak konsumsi, tetapi juga memiliki nilai jual. Dari sinilah semangat pemberdayaan UMKM tumbuh, meski berada di balik jeruji.
Baca juga: Saat Sate Mandora Dibakar, Suasana Lapas Mojokerto Mendadak Mirip Pesta Kampung
Kepala Lapas Mojokerto, Rudi Kristiawan, menegaskan bahwa kegiatan ini bukan sekadar untuk memenuhi kebutuhan pangan internal. Lebih dari itu, produksi tempe menjadi sarana pembinaan keterampilan yang bernilai ekonomi.
“Melalui kegiatan ini, kami ingin membekali WBP dengan keterampilan yang bisa mereka manfaatkan setelah bebas nanti. Tempe adalah produk sederhana, namun peluang usahanya besar dan dekat dengan kehidupan masyarakat,” ujarnya.
Bagi para WBP, aktivitas ini menghadirkan makna tersendiri. Di sela proses fermentasi yang membutuhkan kesabaran, terselip pelajaran tentang ketekunan dan tanggung jawab. Salah seorang WBP mengaku bangga bisa terlibat langsung dalam kegiatan tersebut.
Baca juga: Lapas Mojokerto Deklarasi Zero HALINAR, Razia Gabungan dan Tes Urine Digelar
“Kami diajari cara membuat tempe yang baik dan higienis. Ilmu ini sangat berharga. Semoga nanti bisa jadi bekal untuk membuka usaha sendiri setelah selesai menjalani masa pidana,” tuturnya lirih, namun penuh harap.
Produksi tempe di Lapas Mojokerto menjadi bukti bahwa pembinaan tidak selalu harus rumit. Dari bahan sederhana, lahir keterampilan, kepercayaan diri, dan peluang masa depan. Sebuah upaya kecil yang perlahan menyiapkan jalan pulang bagi mereka—bukan hanya kembali ke masyarakat, tetapi juga kembali sebagai pribadi yang lebih mandiri dan berdaya.
Editor : Redaksi
