Jawa Barat

Nasi Timbel Seribu di Bandung, Oase Murah di Tengah Harga Melambung

Nasi Timbel Seribu di Bandung, Oase Murah di Tengah Harga Melambung © mili.id

Mili.id — Di tengah tekanan inflasi yang membuat harga bahan pokok terus merangkak naik, sebuah gerobak sederhana di Kota Bandung justru menawarkan harapan bagi masyarakat yang ingin makan kenyang tanpa menguras kantong.

Aroma khas daun pisang yang dibakar tipis tercium kuat di kawasan Jalan Sancang, Lengkong. Tepat di depan Masjid Raya Mujahidin, lapak “Nasi Timbel Harga Seribu Mujahidin” menjadi magnet bagi warga dari berbagai kalangan.

Baca juga: Antrean Panjang Bukan Kebetulan: Ini Kunci Sukses Mie Gacoan

Pemiliknya, Fajar (27), memilih tetap mempertahankan harga nasi timbel sebesar Rp1.000 sejak pertama kali berjualan pada 2016. Di saat banyak pelaku usaha kuliner menaikkan harga, keputusan ini justru menjadi ciri khas yang membuat dagangannya dikenal luas.

“Nasinya tetap seribu dari awal. Itu memang sudah jadi identitas kami, orang tahunya ya ‘nasi seribu’,” ujar Fajar saat melayani pembeli.

Meski dibanderol sangat murah, porsi nasi yang disajikan tetap mengenyangkan. Dibungkus daun pisang, nasi timbel tersebut dapat dipadukan dengan beragam lauk sederhana yang juga ramah di kantong.

Pilihan lauk yang tersedia cukup beragam, mulai dari sayuran seperti leunca, buncis, jamur, toge, hingga terong, serta tahu, tempe, dan perkedel yang rata-rata dijual seharga Rp1.000. Untuk tambahan protein, tersedia pula sate usus dengan harga sekitar Rp500 per tusuk, serta menu seperti asin cumi, jambal, kikil, hingga aneka pepes yang dibanderol mulai Rp3.000.

Fajar mengaku memiliki strategi tersendiri agar usahanya tetap berjalan tanpa merugi. Ia mengandalkan variasi lauk sebagai sumber keuntungan, sementara harga nasi tetap dipertahankan.

“Kalau rugi tidak, tetap ada untung. Kita main di menu lauk lainnya,” katanya.

Strategi tersebut terbukti efektif. Setiap hari, sekitar 300 hingga 400 porsi nasi timbel habis terjual hanya dalam hitungan jam. Lapak ini buka mulai pukul 09.00 hingga 15.00 WIB, dan kerap diserbu pelanggan sejak pagi.

Tak hanya pekerja harian, mahasiswa dan warga sekitar juga menjadikan tempat ini sebagai solusi makan hemat di tengah kondisi ekonomi yang tidak menentu.

Keberadaan “Nasi Timbel Seribu” bukan sekadar tempat makan, tetapi juga menjadi simbol ketahanan pelaku usaha kecil dalam menghadapi tantangan ekonomi. Di sudut Kota Bandung ini, kenyang tak harus mahal.

Sumber: detik.com

Editor : Redaksi



Berita Terkait