Hijrah dari FOMO Menuju Tawakal di Dunia Digital dan Pelajaran Syech Ibnu Athoillah

Hijrah dari FOMO Menuju Tawakal di Dunia Digital dan Pelajaran Syech Ibnu Athoillah © mili.id

Oleh: Erwin Muhammad - 

Setiap kali Tahun Baru Islam tiba, umat Muslim kembali diingatkan pada peristiwa hijrah Rasulullah SAW dari Makkah ke Madinah. Namun, hijrah bukan sekadar perpindahan fisik dari satu tempat ke tempat lain. Hijrah adalah perpindahan cara berpikir, cara bersikap, dan cara memandang kehidupan. Di era digital saat ini, makna hijrah justru menjadi semakin relevan ketika manusia hidup di tengah banjir informasi, persaingan tanpa batas, dan budaya pamer yang sering kali mengikis ketenangan jiwa.

Baca juga: Qanaah di Jalan Jurnalistik

Media sosial telah menciptakan ruang baru yang membuat manusia mudah membandingkan hidupnya dengan orang lain. Kesuksesan orang lain terlihat setiap hari di layar ponsel. Jabatan, kekayaan, perjalanan, hingga kebahagiaan rumah tangga dipertontonkan dalam hitungan detik. Akibatnya, banyak orang merasa tertinggal, kurang bersyukur, bahkan kehilangan arah hidup karena terlalu sibuk mengejar apa yang dimiliki orang lain.

Dalam kondisi seperti inilah, pesan para ulama tasawuf, terutama Syeikh Ibnu Athaillah As-Sakandari, menemukan relevansinya. Beliau mengajarkan bahwa seorang hamba hendaknya menyerahkan diri kepada pilihan Allah, karena Allah lebih mengetahui apa yang terbaik bagi hamba-Nya daripada dirinya sendiri.

Pemahaman ini bukan berarti pasrah tanpa usaha. Justru Ibnu Athaillah menjelaskan bahwa ada hamba yang ditempatkan Allah pada jalan kasab (berusaha), dan ada yang ditempatkan pada jalan tajrid (bersandar penuh kepada Allah dengan sebab-sebab yang dimudahkan-Nya). Ukurannya bukan pada profesi atau kedudukan, melainkan pada kondisi hati.

Seseorang yang berada dalam jalan kasab ditandai dengan kemudahan dalam bekerja dan berikhtiar tanpa melalaikan kewajiban agama serta tanpa rakus terhadap milik orang lain. Sebaliknya, mereka yang berada dalam jalan tajrid diberikan kecukupan dari jalan yang tidak disangka-sangka, namun tetap tenang ketika mengalami kekurangan karena hatinya bergantung kepada Allah, bukan kepada sebab-sebab duniawi.

Di era digital, banyak orang terjebak dalam kegelisahan karena memaksakan diri menjadi orang lain. Mereka melihat seorang pengusaha sukses lalu merasa harus menjadi pengusaha. Melihat seorang kreator konten terkenal lalu merasa harus menjadi influencer. Melihat orang lain kaya dari investasi lalu tergesa-gesa masuk ke dunia yang belum dipahaminya. Padahal, belum tentu itulah jalan yang Allah pilihkan untuknya.

Baca juga: Saat Mimpi Garuda Diuji, Bukan Takluk

Kisah yang disampaikan Syeikh Ibnu Athaillah tentang gurunya, Syeikh Abu Abbas Al-Mursi, memberikan pelajaran mendalam. Seorang ahli ilmu lahiriah ingin meninggalkan profesinya demi mengikuti jalan spiritual yang ditempuh gurunya. Namun sang guru justru berkata, "Tetaplah dalam kedudukanmu, sedang apa yang akan diberikan Allah kepadamu pasti sampai kepadamu."

Pesan ini sangat penting bagi masyarakat modern. Hijrah bukan berarti meninggalkan pekerjaan, jabatan, atau aktivitas dunia secara tiba-tiba. Hijrah adalah memperbaiki niat dan menghadirkan Allah dalam setiap aktivitas yang sedang dijalani. Seorang wartawan dapat berhijrah tanpa harus meninggalkan profesinya. Seorang pedagang dapat menjadi lebih dekat kepada Allah tanpa harus menutup tokonya. Seorang pejabat dapat berhijrah tanpa harus melepaskan jabatannya.

Hijrah di era digital berarti berpindah dari kecanduan validasi manusia menuju pencarian ridha Allah. Berpindah dari budaya membandingkan diri menuju budaya mensyukuri takdir. Berpindah dari rasa takut kehilangan dunia menuju keyakinan bahwa rezeki tidak akan tertukar.

Teknologi boleh berkembang, kecerdasan buatan boleh semakin canggih, dan dunia digital boleh semakin cepat. Namun ketenangan hidup tetap bersumber dari tempat yang sama sejak dahulu hingga sekarang, yaitu keyakinan bahwa Allah adalah sebaik-baik pengatur kehidupan.

Karena itu, makna hijrah hari ini bukanlah menjadi orang lain yang terlihat lebih berhasil. Makna hijrah adalah menjadi diri sendiri yang lebih dekat kepada Allah, lebih ikhlas dalam berusaha, dan lebih ridha terhadap apa yang telah dipilihkan-Nya.

Sebab ketika seorang hamba telah sampai pada titik itu, ia tidak lagi sibuk bertanya mengapa jalan hidupnya berbeda dengan orang lain. Ia akan memahami bahwa setiap manusia memiliki jalannya masing-masing, dan apa yang menjadi bagiannya tidak akan pernah tertukar. Itulah hijrah yang sesungguhnya: berpindah dari kegelisahan menuju ketenangan, dari ketergantungan kepada dunia menuju ketergantungan kepada Allah SWT.

Penulis : Pengurus Majlis Darussalam Surabaya

Editor : Muhammad



Berita Terkait
© mili.id

Qanaah di Jalan Jurnalistik

© mili.id

Saat Mimpi Garuda Diuji, Bukan Takluk