Berbagi Tajin Sappar, Tradisi Warga Probolinggo Memasuki Bulan Kedua dalam Kalender Islam

Berbagi Tajin Sappar, Tradisi Warga Probolinggo Memasuki Bulan Kedua dalam Kalender Islam © mili.id

Warga Probolinggo menikmati tajin sappar.

Probolinggo - Sebagian besar warga di Kota Probolinggo masih melestarikan tradisi leluhur untuk mempererat tali silaturahmi saat bulan kedua tahun hijriah. Tradisi itu berupa pembuatan bubur yang dikenal sebutan tajin sappar untuk dibagi-bagikan ke keluarga dan tetangga sekitar.

Bubur atau tajin sappar ini hanya dibuat dalam satu tahun sekali ketika menjelang masuknya bulan Safar atau bulan kedua dalam kalender Islam. Setelah jadi, tajin berbentuk layaknya kelereng ini kemudian didoakan lalu dibagi-bagikan.

Baca juga: Hari Bhayangkara ke -80, Polres Probolinggo Salurkan Bantuan Alat Pertanian dan Droping 10 Ribu Liter Air Bersih di Banyuanyar

Salah satu pembuat tajin sappar, Vita Kusuma, warga Kelurahan/Kecamatan Kanigaran, Kota Probolinggo mengatakan, jika bahan utama dalam pembuatan tajin atau bubur ini adalah tepung dan santan.

Selain tepung beras dan santan, lanjut Vita, ada tepung ketan, tepung kanji, santan, gula pasir, daun pandan, kapur sirih serta sejumlah bumbu pelengkap lainnya.

"Bervariasi, selain ada tajin berbentuk bola-bola kecil yang dibuat dari bahan dasar tepung kanji ada juga membuat bubur sumsum, bubur mutiara dan santan sebagai kuah. Terserah nanti mau dicampur jadi satu atau dipisah-pisah," kata Vita, Selasa (22/8/2023).

Baca juga: Khofifah Sebut Pesantren Benteng Moral Bangsa, Genggong Jadi Inspirasi Generasi Santri

Pengolahannya sendiri, menurut Vita, pembuat membutuhkan waktu kurang lebih hingga 2 jam lamanya. Kemudian, tajin sudah jadi langsung disajikan di atas piring, tak lupa juga untuk menambah aroma dan kesan antik, di atas piring ditaruh lembaran daun pisang.

"Jadi aromanya tidak harum santan saja, ada aroma daun juga nantinya saat tajin sappar ini disajikan panas-panas di atas piring yang sudah dilapisi daun pisang," ungkap Vita.

Baca juga: Apes, Maling di Gading Probolinggo Remuk di Amuk Warga

Sementara Zubaidah, penikmat tajin sappar mengatakan, jika menikmati tajin sappar tidak ada bosan sama sekali. Terlebih lagi, semua tajin dicampur dalam satu piring.

"Setiap tahun pasti dapat kiriman tajin sappar dari tetangga, kadang juga ya saya buat dan juga dibagi-bagikan ke tetangga. Bagi-bagi, tajin ini juga jadi cara kami dan warga lainnya untuk terus mempererat silaturahmi," pungkas Zubaidah.

Editor : Aris S



Berita Terkait