Sejarah dan Tujuan 27 Mei Sebagai Hari Jamu Nasional

Sejarah dan Tujuan 27 Mei Sebagai Hari Jamu Nasional © mili.id

ilustrasi (Ist)

Mili.id - Jamu Nasional diperingati setiap tanggal 27 Mei, yang bertujuan untuk mengangkat kembali eksistensi jamu di Indonesia.

Sebab, saat ini eksistensi jamu di Indonesia bisa dikatakan mulai pudar bahkan di era modern ini jamu disebut pengobatan kuno.

Baca juga: Rayakan Hari Anak Nasional 2026 Melalui Ruang Berkarya yang Setara di Dafam Pacific Caesar Surabaya

Penetapan 27 Mei sebagai Hari Jamu Nasional kala itu dimulai era Presiden Susilo Bambang Yudhoyono di tahun 2008.

Tanggal itu dipilih sebagai hari kebangkitan jamu sekaligus meresmikan jamu sebagai kearifan lokal.

IlustrasiIlustrasi

Sejarah Jamu

Jamu telah muncul sejak berabad-abad lalu. Zaman nenek-moyang, jamu dipercaya dapat menyembuhkan berbagai penyakit melalui pengobatan tradisional, dengan memanfaatkan bahan alami.

Dalam buku The Power of Jamu karya Martha Tilaar dan Bernard T. widjaja, dituliskan perjalanan jamu dari masa ke masa, hingga lima periode sebagai berikut:

1. Periode Prasejarah

Pada zaman purba dipercaya bahwa Pithecanthropus Erectus yang pernah mendiami Indonesia, manusia purba pada masanya dijangkiti penyakit yang beraneka ragam.

Saat itu, mereka menderita exostosis. Berbagai golongan penyakit juga ditemukan dan terbukti ada sejak zaman Neolitik.

Namun, saat itu jumlah Pithencanthropus erectus yang ditemukan terlalu sedikit untuk dilakukan penelitian penggunaan biomedisin sebagai terapi pengobatan.

2. Periode Pra Kolonial (Tahun 825 Masehi)

Pada tahun 825 Masehi ditemukan bukti penggunaan tanaman secara internal dan eksternal yang digambarkan pada ukiran relief dinding Candi Borobudur.

Pada ukiran tersebut digambarkan relief pohon Kalpataru yang merupakan pohon mitologi melambangkan kehidupan abadi.

Pada relief tersebut digambarkan terdapat orang yang sedang menghancurkan bahan-bahan yang salah satunya bersumber dari pohon Kalpataru untuk pembuatan jamu.

Baca juga: Eri Cahyadi Ancam Tutup Usaha Bandel Soal Pajak Dan Parkir

Selain itu, terdapat perempuan yang sedang mencampur tanaman untuk perawatan tubuh. Selain dari relief Candi Borobudur, terdapat dokumen naskah kuno yang ditemukan di Bali dengan Bahasa Sansekerta.

Pada naskah tersebut diceritakan tentang pengobatan tradisional. Saat itu, telah dikembangkan sistem pengobatan yang disebut dengan Agen Balian Sakti.

IlustrasiIlustrasi

3. Periode Kolonial tahun 1600-1942

Pada masa kolonial, masyarakat Jawa menulis resep jamu tradisional dari tanaman yang dikenal dengan primbon atau serat.

Serat paling terkenal adalah Serat Centhini yang didokumentasikan oleh Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Anom Amengkunegara III.

Selain itu, terdapat juga kitab yang mengulas secara lengkap resep obat tradisional yang berjudul Serat Kaoru Djampi Djampi yang ditulis pada tahun 1858 Masehi.

4. Periode Pendudukan Jepang tahun 1942-1945

Baca juga: Dengan Semangat Kemerdekaan RI, PLN Gencarkan Promo Tambah Daya 50 Persen di Darmo Free Day

Pada masa ini diselenggarakan seminar pertama mengenai jamu di Solo pada tahun 1940. Berawal dari seminar ini kemudian dibentuklah Panitia Jamu Indonesia yang dipimpin oleh Prof. Dr. Sato untuk mengimbau para pengusaha jamu secara sukarela untuk mendaftarkan resep pribadi mereka untuk diperiksa secara ilmiah.

5. Periode Kemerdekaan

Pada tahun 1949, pengajar farmakologi di Universitas Indonesia membuat laporan daftar tanaman obat berkhasiat yang bisa menggantikan obat impor.

Tanaman yang masuk ke dalam daftar tersebut di antaranya adalah johar, kecubung, upas raja, dan lidah buaya.

Setahun kemudian, berdirilah Werkgroep voor Minidinale Plante untuk memfasilitasi penelitian tanaman obat di Indonesia.

Presiden Soekarno saat itu juga sangat perhatian dalam pengembangan obat tradisional.

Jamu yang telah dipakai secara turun temurun ini kemudian mulai pudar pada tahun 2000an. Sehingga ditetapkanlah jamu sebagai kearifan lokal pada 27 Mei 2008 sekaligus menjadi hari jamu nasional.

Editor : Aris S



Berita Terkait