Ratusan Santri di Mojokerto Tumbang Usai Sehari Santap MBG, Ini Penjelasannya

Ratusan Santri di Mojokerto Tumbang Usai Sehari Santap MBG, Ini Penjelasannya © mili.id

Komandan Kodim 0815/Mojokerto Letkol Inf. Abi Suwandoyo Baru didampingi Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Mojokerto Dyan Anggrahini Sulistyowati saat mengecek kondisi santri, Sabtu (10/01/20226).

Mili.id - Program Makanan Bergizi Gratis (MBG) di Kabupaten Mojokerto mendadak jadi sorotan, Sabtu (10/01/2026).

 Sebanyak 152 anak dari dua ponpes dilaporkan mengalami mual, muntah, hingga diare usai menyantap makanan yang dibagikan, membuat orang tua dan masyarakat panik.

Baca juga: CKG Kota Mojokerto Capai 71,5 Persen, Pemkot Kejar Cakupan 100 Persen pada Oktober

 Komandan Kodim 0815/Mojokerto Letkol Inf. Abi Suwandoyo Baru membenarkan, adanya ratusan anak yang terdampak dan menyatakan saat ini seluruh pihak bergerak cepat melakukan penanganan dan investigasi.

 “Data sementara yang masuk total 152 anak. Dan perawatan terbagi di beberapa tempat. Kami masih terus mendalami bersama kepolisian dan dinas kesehatan,” tegasnya.

 Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Mojokerto Dyan Anggrahini Sulistyowati mengungkapkan, para korban menunjukkan gejala seragam, mulai dari mual, muntah, demam hingga diare. 

Baca juga: BPBD Mojokerto Mulai Distribusi Air Bersih ke Tiga Desa Terdampak Kemarau, Layani 2.776 KK

Gejala dirasakan santri sejak Jumat (9/01/2026) malam dan mulai di rujuk Sabtu (10/01/2026) pukul 09.00 WIB ke sejumlah puskesmas.

“Penanganan kami pusatkan di pondok dan beberapa puskesmas. Ada juga yang kami rujuk ke rumah sakit karena perlu perawatan lebih lanjut. Semua korban sudah tertangani,” jelasnya.

Tak hanya itu, Dinkes juga telah mengambil sampel makanan MBG yang dibagikan kepada para penerima manfaat. Menu yang dikonsumsi saat itu diketahui berupa soto ayam.“Sampel sudah kami kirim ke laboratorium. Hasilnya paling cepat baru bisa keluar hari Rabu,” kata Dyan.

Baca juga: Warga Kunjorowesi Bertahan dengan Mandi Sekali Sehari, Air Bersih Diprioritaskan untuk Memasak

Meski dugaan keracunan mengarah ke MBG, Dandim menegaskan belum ada kesimpulan resmi. Pasalnya, jarak waktu antara penyajian makanan dan munculnya gejala cukup panjang. “Kami belum bisa menyimpulkan penyebabnya. Bisa saja ada faktor lain. Semua masih menunggu hasil lab dan investigasi gabungan,” ujarnya.

Saat ini perawatan terpusat di Pondok Pesantren (Ponpes) Mahad An Nur. Meski begitu, penanganan medis juga dilaksanakan di Rumah Sakit Prof. Dr. Soekandar Mojosari, puskemas Pacet, Puskesmas Gondang, dan Puskesmas Kuterejo.

Editor : Nana



Berita Terkait