Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) Provinsi Jawa Timur periode 2025–2030, Prof. Abd Halim Soebahar
Mili.id– Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) Provinsi Jawa Timur periode 2025–2030, Prof. Abd Halim Soebahar, menegaskan komitmennya membawa MUI menjadi organisasi yang lebih adaptif, responsif, dan relevan menghadapi tantangan zaman. Komitmen tersebut disampaikan usai prosesi pengukuhan pengurus MUI Jawa Timur di Gedung Negara Grahadi, Surabaya, Minggu (12/7/2026).
Menurut Prof. Halim, penguatan kapasitas pengurus menjadi fondasi utama dalam menjalankan amanah organisasi selama lima tahun ke depan. Seluruh jajaran MUI, kata dia, harus memiliki pemahaman yang utuh mengenai wawasan keulamaan, nilai-nilai Wasathiyatul Islam, serta peran strategis MUI sebagai pelayan umat.
"Pengurus MUI harus memiliki pemahaman yang kuat tentang wawasan ke-MUI-an, Taujihat Wasathiyatul Islam, serta berbagai pedoman yang menjadi dasar dalam menjalankan peran keulamaan di tengah masyarakat," ujarnya.
Ia mengungkapkan, sebelum pengukuhan, seluruh pengurus telah mengikuti proses konsolidasi dan pembekalan selama satu bulan guna menyamakan visi, misi, dan arah gerak organisasi.
Prof. Halim optimistis MUI Jawa Timur mampu menjawab berbagai tantangan yang dihadapi umat. Optimisme tersebut didukung keberadaan 23 Komisi, Badan, dan Lembaga (KBL) yang dihuni para ulama, akademisi, serta profesional dari berbagai bidang keahlian.
Menurutnya, kekuatan sumber daya tersebut akan membuat MUI lebih cepat dan tepat dalam merespons persoalan keagamaan maupun sosial yang berkembang di masyarakat.
Dakwah Digital Jadi Prioritas
Prof. Halim juga menyoroti pentingnya memperkuat dakwah di ruang digital, sejalan dengan arahan Gubernur Jawa Timur. Ia menilai perkembangan teknologi telah mengubah pola komunikasi masyarakat sehingga media digital harus dimanfaatkan sebagai sarana penyebaran dakwah yang menyejukkan dan mencerdaskan.
"Ruang digital merupakan medan dakwah baru. Karena itu harus diisi dengan konten-konten yang edukatif, menenangkan, dan mampu memberikan pencerahan kepada masyarakat," katanya.
Ia menambahkan, MUI Jawa Timur akan semakin aktif memantau berbagai isu yang berkembang di media sosial agar mampu memberikan respons dan edukasi secara cepat terhadap persoalan yang muncul di tengah masyarakat.
Soroti Meningkatnya Patologi Sosial
Selain tantangan di dunia digital, Prof. Halim mengingatkan semakin kompleksnya berbagai persoalan sosial yang dihadapi masyarakat saat ini.
Ia menyebut penyalahgunaan narkotika, meningkatnya kasus bunuh diri, hingga maraknya penggunaan rokok elektronik yang diduga dimanfaatkan sebagai media baru penyalahgunaan narkoba menjadi persoalan serius yang memerlukan perhatian bersama.
"Patologi sosial semakin beragam dan kompleks. Karena itu MUI harus hadir memberikan solusi, pembinaan, sekaligus edukasi kepada masyarakat," tegasnya.
Baca juga: Menjembatani Ilmu dan Umat: Jejak Panjang Ketum MUI Jatim, Prof. Dr KH Abd Halim Soebahar MA
Perkuat Sinergi dengan Pemerintah
Sebagai khadim al-ummah atau pelayan umat, Prof. Halim menegaskan MUI tidak dapat bekerja sendiri dalam menghadapi berbagai tantangan tersebut. Kolaborasi dengan pemerintah, lembaga pendidikan, organisasi kemasyarakatan, dan seluruh elemen masyarakat menjadi kunci menciptakan kehidupan yang harmonis dan kondusif.
"MUI memiliki tanggung jawab besar untuk menjamin kemaslahatan umat. Oleh karena itu, kami akan terus memperkuat sinergi dengan pemerintah dan berbagai elemen strategis lainnya untuk bersama-sama menjaga kondusivitas Jawa Timur," ujarnya.
Dengan kepengurusan baru yang diperkuat oleh para ulama, akademisi, dan tenaga profesional, MUI Jawa Timur periode 2025–2030 menargetkan menjadi organisasi yang lebih inovatif, adaptif terhadap perkembangan zaman, sekaligus mampu memperkuat dakwah Islam yang moderat, menjaga persatuan umat, serta menjadi mitra strategis pemerintah dalam menghadapi tantangan era digital.
Editor : Erwin Muhammad
